Arsitektur Pohon yang Tersembunyi: Mengapa Monokultur Sawit Melenceng dari Cetak Biru Alam?

Oleh:
Ts. Dr. Muhamad Askari
Diaspora Indonesia, Dosen Senior Fakulti Pertanian Lestari, Universiti Malaysia Sabah, dan Pakar Hidrologi Pertanian

Sawit Itu Pohon. Lalu Kenapa Heboh?
“Sawit itu kan pohon juga.” Pernyataan ini sering muncul dalam diskusi seputar keberlanjutan perkebunan. Memang benar, Elaeis guineensis secara taksonomi adalah pohon—bahkan tampak megah dengan tajuknya yang menjulang tinggi. Tapi fakta botanis ini menutupi kenyataan yang lebih mengganggu: tidak semua pohon bekerja dengan cara yang sama. Konsep tentang bagaimana pohon “mengatur” air dan hara mengungkap mekanisme elegan bernama “double-funneling” atau corong ganda yang mengubah ekosistem tanah selama puluhan tahun. Maka pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar “apakah sawit termasuk pohon”, melainkan “sejauh mana monokultur sawit dapat mempertahankan fungsi hidrologi yang menjadikan hutan begitu penting bagi keseimbangan ekosistem”.​

Perubahan Tutupan Lahan Besar-Besaran
Antara 1990 dan 2020, sekitar 420 juta hektare hutan hilang secara global—luasnya lebih besar dari India—dan sekitar 90% kehilangan itu didorong oleh ekspansi pertanian (FAO, 2020). Kebun sawit saja telah merenggut lebih dari 27 juta hektare, terkonsentrasi di Indonesia dan Malaysia, di mana dulu berdiri hutan hujan purba. Secara kasat mata, hitung-hitungannya tampak sederhana: singkirkan hutan yang dianggap “tak produktif”, tanam komoditas yang menguntungkan.​

Namun cara hitung ini mengabaikan apa yang disebut ekolog sebagai “jasa lingkungan”—infrastruktur tak kasat mata yang disediakan hutan. Hutan alami mengatur siklus air, mencegah banjir, menjaga pengisian kembali air tanah, dan menciptakan keragaman sifat tanah yang menopang produktivitas selama ribuan tahun. Sebaliknya, lanskap pertanian monokultur sering kehilangan fungsi ekologis kritis tersebut meskipun tampak hijau. Komunitas di Asia Tenggara kini menghadapi banjir disertai material longsor saat musim hujan, dan kekeringan parah saat musim kemarau—kekacauan hidrologi yang dulu diredam oleh hutan.​

Instalasi Pipa Alam: Terobosan “Double-Funneling”
Bayangkan kalau instalasi pipa di rumah Anda bukan pipa mati, tetapi jaringan hidup yang makin lama makin “cerdas”. Kurang lebih seperti itulah yang pohon lakukan, yang ditemukan oleh Mark S. Johnson dan Johannes Lehmann dalam riset mereka di Simon Fraser University dan Cornell University (Johnson & Lehmann, 2006, Ecoscience 13:324-333). Mereka menemukan mekanisme mencengangkan: pohon mengalirkan air hujan lewat dua corong—pertama lewat tajuk, lalu lewat sistem akar.​

Corong pertama bekerja di depan mata. Saat hujan mengenai kanopi hutan, daun dan cabang mengarahkan air menuju batang dalam bentuk “stemflow”—air yang mengalir di permukaan kulit batang, sambil diperkaya nutrien. Porsi hujan yang dialihkan menjadi stemflow bisa berkisar dari 0,07% hingga 22% dari total curah hujan. Untuk nutrien seperti kalium dan nitrat, konsentrasi dalam stemflow bisa sampai 400 kali lebih tinggi daripada air hujan biasa.

Yang membuatnya luar biasa: air kaya nutrien itu tidak meresap merata. Corong kedua aktif di bawah permukaan, ketika akar pohon membentuk “jalur aliran preferensial”—jalur tol air di dalam tanah. Air yang masuk ke jalur ini bisa bergerak sepuluh hingga seratus kali lebih cepat, mengantar nutrien terkonsentrasi langsung ke zona aktif di sekitar akar.​

Dampaknya sangat besar. Tanah di jalur aliran preferensial mengandung 10–70% lebih banyak karbon organik, menampung 9–92% lebih banyak biomassa mikroba, dan menunjukkan siklus hara yang jauh lebih cepat. Double-funneling menciptakan “hot spot” biologis yang bisa bertahan puluhan tahun—bahkan setelah pohon ditebang.

​Bandingkan dengan monokultur sawit. Pelepah sawit cenderung miring ke atas dan ke luar, mengurangi stemflow dan lebih banyak menghasilkan throughfall (tetesan langsung ke tanah). Tanpa corong pertama yang efektif, corong kedua hanya menerima air yang lebih encer dan jalur tol air terhambat. Lingkaran umpan balik positif yang membuat hutan alami “memupuk diri sendiri” pun patah. Bentuk kanopi menjelaskan sekitar 64% variasiflux kalium dan 61% variasiflux nitrat dalamstemflow—artinya, arsitektur pohon ikut menentukan apakah suatu sistem tanah akan makin kaya atau makin miskin seiring waktu

Riset doktoral penulis di Universitas Tsukuba mengonfirmasi bahwa sistem perakaran dalam, sudut cabang yang mendukung aliran air ke batang, serta rasio luas tajuk terhadap basal area yang tinggi menjadi karakteristik prioritas dalam mengoptimalkan mekanisme double-funneling.

Merancang Ulang: Dari Monokultur ke Mosaik
Riset double-funneling membuka jalan ke solusi praktis: tidak semua pohon memberi kontribusi yang sama bagi kesehatan tanah—bentuk tajuk dan sistem akar sangat menentukan. Dari sini muncul gagasan hidropedologi terzonasi: memilih jenis tanaman berdasarkan topografi dan fungsi hidrologinya, bukan semata-mata nilai ekonomi.

​Bayangkan kebun sawit yang didesain ulang dengan selingan spesies pohon yang punya stemflow tinggi. Riset menunjukkan beberapa pohon spesies Ficus, Nothofagus pumilio, dan palem yang dikelola dengan baik bisa mengalihkan 9–22% hujan menjadi stemflow. Untuk kawasan Asia Tenggara, beberapa spesies yang telah diuji dalam sistem agroforestri kelapa sawit meliputi pohon buah-buahan seperti jengkol, petai, dan durian, serta pohon kayu seperti meranti dan sungkai. Jika disisipkan strategis di antara barisan sawit, mekanisme double-funneling bisa dipulihkan. Uji coba awal sistem sawit berbasis agroforestri menunjukkan sinyal menjanjikan: kebun campuran dapat mempertahankan bahan organik tanah 30–40% lebih baik dan lebih tahan kekeringan, tanpa mengorbankan hasil panen drastis.

​Di tengah krisis iklim, lanskap yang mampu meredam ekstrem hidrologi—banjir besar dan kekeringan akut—akan menjadi aset strategis. Tanah hutan dengan jaringan jalur aliran preferensial berkembang baik dapat mengisi ulang air tanah 10–19% lebih efisien dibanding tanah pertanian monokultur.

​Kebijakan harus mengejar ketertinggalan dari sains. Skema sertifikasi seperti RSPO dan ISPO memang sudah mulai menyorot koridor keanekaragaman hayati—itu penting, tetapi belum cukup. Di Indonesia, revisi standar ISPO 2020 belum menjadikan fungsi hidrologi sebagai indikator wajib—sebuah kekosongan yang harus segera diisi mengingat mayoritas perkebunan sawit nasional berada di lahan mineral dengan kerentanan erosi yang perlu diperhitungkan. Diperlukan standar baru yang menjadikan fungsi hidrologi sebagai syarat: ambang minimum stemflow, keragaman akar, sampai target keragaman sifat tanah yang terukur. Ilmunya sudah ada; yang kurang adalah keberanian politik.

​Bagaimana jika kita mengajukan pertanyaan yang salah? Alih-alih “Bagaimana membuat pertanian lebih berkelanjutan?”, mungkin seharusnya kita bertanya, “Bagaimana membuat lanskap produktif bekerja seperti hutan?”. Pohon sudah menghabiskan 350 juta tahun menyempurnakan pengelolaan air dan siklus hara. Mekanisme double-funneling menunjukkan bahwa perubahan yang tampak sederhana—memilih jenis pohon, mengatur pola tanam—mampu menghidupkan kembali proses ekologis mendasar. Pertanyaannya bukan lagi “apakah sawit itu pohon”, melainkan “apakah kita cukup cerdas menanamnya dengan logika hutan”.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *