Dari Engineer Muda Tahun 1991 ke Senior Engineer Tahun 2026: Apa yang Berubah?
Oleh Aslam Salimudin
Alhamdulillah, pada tahun 2026 saya menuntaskan penugasan selama dua tahun di Paris. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan karier saya selama lebih dari 35 tahun sebagai engineer. Banyak hal telah berubah sejak saya memulai karier pada tahun 1991 sebagai engineer muda hingga saat ini, ketika saya terlibat dalam proyek energi berskala besar dan kompleks sebagai senior engineer.
Satu pertanyaan sering muncul: apa perbedaan utama antara menjadi engineer pada tahun 1991 dan menjadi engineer pada tahun 2026?
Tahun 1991: Kekuatan Utama Ada pada Penguasaan Teknis yang Mendalam
Ketika saya memulai karier sebagai engineer muda pada tahun 1991, kemampuan teknis yang sangat terperinci merupakan faktor terpenting untuk menjadi engineer yang efektif.
Pada masa itu, saya menulis sendiri program kontrol untuk sistem pabrik dengan menggunakan sistem operasi UNIX untuk distributed control system (DCS) dan ladder diagram untuk programmable logic controller (PLC). Untuk dapat melakukannya, seorang engineer harus memahami secara mendalam cara kerja proses pabrik, cara peralatan beroperasi, dan kebutuhan operator di lapangan.
Sebagai engineer muda, saya dituntut untuk memahami setiap detail teknis, mulai dari filosofi kontrol, logika interlock, dan fungsi instrumentasi hingga cara operator menjalankan fasilitas produksi sehari-hari.
Penguasaan teknis yang kuat memberikan kepercayaan diri yang tinggi. Dalam banyak situasi, seorang engineer mampu menganalisis dan menyelesaikan masalah tanpa harus bergantung pada vendor atau pihak lain. Kemampuan tersebut juga menjadi modal penting ketika ia harus berdiskusi atau berdebat secara profesional dengan tim operasi, manajemen, dan disiplin engineering lain. Argumentasi yang kuat lahir dari pemahaman teknis yang mendalam.
Singkatnya, pada era tersebut kompetensi individu menjadi faktor dominan. Semakin tinggi penguasaan teknis seseorang, semakin besar pula pengaruh dan kontribusinya terhadap keberhasilan proyek maupun operasi pabrik.
Tahun 2026: Tantangan Berubah Menjadi Integrasi, Risiko, dan Keputusan Strategis
Memasuki tahun 2026, dunia engineering telah berubah secara signifikan. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI), digitalisasi, dan sistem informasi yang terintegrasi telah mengubah peran seorang engineer. Demikian pula tuntutan industri terhadap efisiensi biaya, kecepatan pelaksanaan proyek, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan.
Saat ini, kemampuan teknis tetap mutlak diperlukan, tetapi tidak lagi memadai. Seorang engineer modern harus mampu melihat dampak jangka panjang dari setiap keputusan desain yang dibuatnya. Pertanyaannya tidak lagi sekadar “Apakah sistem ini bisa bekerja?”, tetapi juga:
- Apakah desain ini aman untuk dioperasikan?
- Apakah sistem ini cukup andal selama 20 hingga 30 tahun masa operasi?
- Apakah desain ini mudah dipelihara?
- Apakah risiko kegagalannya telah diidentifikasi?
- Apakah start-up dan commissioning akan berjalan lancar?
- Apakah desain ini ramah lingkungan?
- Apakah biaya siklus hidupnya optimal?
Dengan kata lain, fokus engineering telah bergeser dari sekadar menciptakan solusi teknis menjadi memastikan bahwa solusi tersebut benar-benar memberikan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan.
Pentingnya Kemampuan Mengelola Risiko
Dalam proyek modern, banyak masalah tidak muncul pada tahap desain, tetapi baru terlihat pada saat commissioning, start-up, atau bahkan setelah fasilitas beroperasi. Oleh karena itu, tugas engineer saat ini adalah mengantisipasi masalah sebelum masalah tersebut benar-benar terjadi.
Kemampuan mengidentifikasi risiko, menganalisis konsekuensi, dan memahami berbagai skenario kegagalan menjadi semakin penting. Pengalaman puluhan tahun sering kali menjadi aset yang sangat berharga karena banyak risiko hanya dapat dikenali oleh mereka yang pernah mengalaminya secara langsung.
Seorang senior engineer tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam dokumen desain, tetapi juga mampu membayangkan apa yang akan terjadi ketika operator menekan tombol start-up untuk pertama kali.
Tantangan dalam Berhadapan dengan Kontraktor dan Vendor
Ketika bekerja di pihak klien atau pemilik proyek, tantangannya menjadi lebih kompleks. Kontraktor atau vendor sering kali mengajukan klaim biaya tambahan akibat perubahan desain yang dianggap berasal dari permintaan klien. Dalam situasi seperti itu, seorang engineer harus mampu membedakan dua hal: perubahan yang memang diperlukan karena kesalahan desain awal serta risiko terhadap keselamatan dan keandalan sistem, dan perubahan yang sebenarnya timbul akibat kekurangan persyaratan (requirement) yang disusun pada tahap FEED (front end engineering design). Pembedaan ini sangat menentukan karena berpengaruh langsung terhadap pihak yang harus menanggung biaya, klien atau kontraktor.
Kemampuan berargumentasi secara teknis pun menjadi sangat penting. Seorang engineer harus mampu menjelaskan pendiriannya berdasarkan data, spesifikasi teknis, standar internasional, filosofi desain, dan persyaratan keselamatan yang berlaku.
Tidak jarang keputusan yang diambil berkaitan dengan nilai kontrak yang mencapai jutaan dolar. Kesalahan dalam mengambil keputusan dapat berdampak pada keselamatan manusia, keberlangsungan operasi, ataupun kerugian finansial yang sangat besar.
Oleh karena itu, keahlian berkomunikasi dan kemampuan menjelaskan argumen teknis secara profesional kini menjadi kompetensi yang hampir sama pentingnya dengan kemampuan engineering itu sendiri.
Menilai Deviasi Secara Objektif
Salah satu tanggung jawab penting dalam proyek besar adalah mengevaluasi deviasi atau penyimpangan terhadap spesifikasi yang diajukan oleh kontraktor maupun vendor. Tidak semua deviasi harus ditolak; sebaliknya, tidak semua deviasi dapat diterima begitu saja.
Beberapa deviasi justru mendatangkan manfaat berupa pengurangan biaya, penyederhanaan desain, atau peningkatan keandalan sistem. Namun, ada pula deviasi yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, penurunan performa, atau masalah operasional pada masa depan.
Di sinilah pengalaman, pengetahuan teknis, dan kemampuan berpikir kritis memainkan peran besar dalam memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar bermanfaat bagi proyek.
Pelajaran Terpenting Setelah 35 Tahun Menjadi Engineer
Setelah lebih dari tiga dekade berkarya sebagai engineer, saya menyadari bahwa esensi profesi ini sebenarnya tidak berubah. Teknologi berubah, perangkat lunak berubah, dan metode kerja pun berubah. Bahkan, kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian pekerjaan rutin yang dahulu dilakukan oleh manusia.
Namun, ada beberapa hal yang tetap menjadi fondasi utama seorang engineer yang baik:
- penguasaan teknis yang kuat dan mendalam;
- semangat untuk terus belajar sepanjang hayat;
- kemampuan memanfaatkan pengalaman untuk mengidentifikasi risiko;
- kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang tepat;
- kemampuan berkomunikasi dan berargumentasi secara profesional;
- kepercayaan diri yang dibangun dari kompetensi dan integritas; serta
- komitmen terhadap keselamatan, kualitas, dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, seorang engineer tidak diukur dari seberapa banyak masalah yang dapat diselesaikannya ketika masalah itu sudah terjadi. Engineer yang baik adalah mereka yang mampu melihat masalah jauh sebelum masalah itu muncul, lalu menghilangkannya sejak tahap desain.
Mungkin inilah perbedaan terbesar antara seorang engineer muda pada tahun 1991 dan seorang senior engineer pada tahun 2026. Dahulu saya berfokus pada cara membuat sistem bekerja. Kini saya lebih banyak memikirkan cara memastikan sistem tersebut tetap bekerja dengan aman, andal, dan efisien, serta memberikan manfaat selama puluhan tahun ke depan.
Menempuh pendidikan S1 Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Melanjutkan pendidikan di program Magister Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung. Awal bekerja, bergabung di Astra Motor mengikuti program Astra Basic Training Program. Kemudian mengikuti program Bimbingan Profesi Sarjana Teknik Pertamina (BPST 14) di Palembang selama 9 bulan. Selanjutnya ditugaskan di PT. Arun, Aceh selama 3 tahun, kemudian dipindah tugaskan ke PT. Badak Bontang selama 13 tahun. Pada tahun 2007, pindah tugas ke Hammerfest LNG di Norway untuk membantu startup proyek LNG pertama di Eropa. Kemudian pada tahun 2008, pindah bekerja di Total Gestion International di Geneva, Swiss, yang merupakan bagian dari perusahaan Total Energy Perancis hingga saat ini. Selama di bekerja di Total, telah berpindah pindah tugas di Perancis, Yaman, Angola dan Myanmar.
