Rezeki Tidak Hanya Berupa Harta Benda

Saudaraku, jangan mempersempit pengertian rezeki dengan menganggap bahwa rezeki hanya berupa harta benda sehingga ketika engkau tidak bergelimang harta, engkau menganggap Allah tidak memberimu banyak rezeki.

Rezeki atau ar-rizq dalam bahasa Arab berarti pemberian. Secara bahasa saja, rezeki tidak identik dengan uang atau harta. Dalam kitab Lisanul Arab disebutkan:

والأَرزاقُ نوعانِ: ظاهر للأَبدان كالأَقْوات، وباطنة للقلوب والنُّفوس كالمَعارِف والعلوم

“Rezeki ada dua macam: rezeki lahiriah seperti makanan pokok dan rezeki batiniah untuk hati dan jiwa, seperti pengetahuan dan ilmu.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (QS. Hud: 6).

Padahal, binatang tidak membutuhkan harta dan uang. Namun, Allah menyebutkan bahwa mereka pun mendapatkan rezeki. Dengan demikian, jelaslah bahwa rezeki tidak identik dengan uang atau harta benda. Sebaliknya, penglihatan, pendengaran, kesehatan, anak, keluarga, pengetahuan, ilmu, akhlak mulia, prestasi, dan lain-lain, semuanya adalah rezeki.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إنما الدنيا لأربعةِ نفرٍ ؛ عبدٌ رزقَه اللهُ مالًا و علمًا فهو يتَّقي فيه ربَّه ، و يصِلُ فيه رَحِمَه ، و يعلمُ للهِ فيه حقًّا ، فهذا بأفضلِ المنازلِ ، و عبدٌ رزقَه اللهُ علمًا ، و لم يرزقْه مالًا ، فهو صادقُ النَّيَّةِ ، يقولُ : لو أنَّ لي مالًا لعملتُ بعملِ فلانٍ ، فهو بنِيَّتِه ، فأجرُهما سواءٌ 

“Dunia itu untuk empat orang. Pertama, hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu (agama); ia bertakwa kepada Allah dengan ilmu dan hartanya, ia gunakan hartanya untuk menyambung silaturahim, dan ia mengetahui bahwa di dalamnya terdapat hak Allah. Inilah kedudukan yang paling utama. Kedua, hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa ilmu (agama), tetapi tidak diberi harta. Namun, niatnya tulus. Ia berkata, ‘Andai aku memiliki harta, aku akan beramal seperti Fulan (nomor 1).’ Ia pun sungguh-sungguh dengan niatnya tersebut. Maka, pahala keduanya (nomor 1 dan 2) sama …” (HR. At-Tirmidzi no. 2325; beliau menilainya hasan shahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu syar’i yang dimiliki seseorang adalah rezeki karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu”.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?’” (QS. Yunus: 34).

Ayat ini menunjukkan bahwa hujan dan tumbuh-tumbuhan adalah rezeki. 

Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah dari rezeki yang Allah berikan kepada kalian, yang halal dan baik. Bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kalian beriman” (QS. Al-Maidah: 88).

Ayat ini menunjukkan bahwa makanan adalah rezeki.

Allah Ta’ala berfirman:

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًۭا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًۭا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَ‌ٰلٍۢ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّـٰتٍۢ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَـٰرًۭا ﴿١٢﴾

“Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun,’ niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai” (QS. Nuh: 10—12).

Ayat ini menunjukkan bahwa hujan, anak, kebun, dan sungai adalah rezeki.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

لا تمنَّوُا الموتَ؛ فإنَّ هولَ المَطلَعِ شديدٌ، وإنَّ منَ السَّعادةِ أنْ يطولَ عُمْرُ العبدِ، ويَرزقَه اللهُ الإنابةَ.

“Janganlah kalian mengharapkan kematian karena sakaratulmaut itu sangat dahsyat. Di antara bentuk kebahagiaan adalah seseorang diberi umur panjang dan Allah berikan rezeki berupa inabah (senantiasa kembali taat kepada Allah)” (HR. Ahmad no. 14564, dihasankan oleh Syu’aib al-Arnauth).

Hadits ini menunjukkan bahwa dapat beribadah, dapat melakukan ketaatan, dan istiqamah adalah rezeki.

Maka, renungkanlah. Bisa jadi seseorang tidak mendapatkan rezeki berupa harta benda, tetapi ternyata ia mendapatkan rezeki berupa keluarga, anak-anak, teman-teman yang baik, tersedianya makanan, kesehatan, hujan, ilmu syar’i, dapat beribadah, dapat melakukan ketaatan, istiqamah, dan lain-lain. Syukurilah senantiasa apa pun rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *