Kuliah Jangan Cuma Jadi Beban Orang Tua: Belajar Sampai Dapat Uang atau Pahala
Catatan dari seminar bersama mahasiswa TRPL di Politeknik Indonusa Surakarta
Oleh : Dedi Gunawan, M.T., CCIE Pendiri dan Pembina Yayasan IDN
Kemarin saya berbagi pengalaman saat mengisi seminar di Kampus Politeknik Indonusa Surakarta, Solo, untuk para mahasiswa jurusan TRPL atau programmer. Yang saya bahas bukan cuma soal coding, framework, atau membuat aplikasi. Saya lebih banyak membicarakan satu hal yang menurut saya jauh lebih penting: mahasiswa harus mulai belajar mandiri.
Mandiri itu bukan sekadar bisa makan sendiri, tinggal sendiri, atau bisa menabung. Mandiri itu ketika kita mulai berusaha punya sumber pemasukan sendiri. Bukan berarti semua harus langsung kaya, tetapi minimal mulai punya keinginan untuk tidak menjadikan orang tua sebagai satu-satunya sumber uang.
Uangnya Harus Ada Dulu
Ada yang bertanya, “Bagaimana cara mengelola uang?” Saya jawab: uangnya harus ada dulu. Dan bukan uang dari orang tua, bukan hasil menabung. Kalau sekadar menabung, anak TK juga bisa menabung.
Yang saya maksud adalah begini. Level paling bawah dari kemandirian itu ketika kita punya keinginan untuk mengganti sumber pemasukan. Dari yang awalnya cuma satu, yaitu orang tua, menjadi kita punya sumber pemasukan lain. Harus punya beberapa sumber pemasukan. Tidak lagi meminta uang ke orang tua untuk semua hal. Tidak lagi menjadikan orang tua sebagai sumber pemasukan satu-satunya.
“Malu sudah kuliah masih minta uang orang tua. Belajar jualan. Cari uang dari Rp100 ribu. Bulan depan cari Rp200 ribu. Setelah itu naik lagi.”
Jangan keburu sibuk bicara target ratusan juta kalau Rp100.000,00 dari hasil usaha sendiri saja belum pernah dapat. Mulai dari kecil tidak masalah. Yang penting ada prosesnya: cari masalah, tawarkan solusi, dapat uang, gagal, perbaiki, lalu naik lagi. Bisa lewat jualan, jasa desain, jasa coding, membuat website sederhana, bantu UMKM, membuat aplikasi pencatatan, atau apa pun yang halal dan memang dibutuhkan orang.
Jangan Menebak Keterampilan, Cari dari Lowongan Kerja
Ada lagi yang bertanya, “Bagaimana cara belajar keterampilan?” Saya bilang: pertama, cari informasi skill apa saja yang memang dibutuhkan industri. Jangan cuma belajar karena melihat orang lain sedang ramai belajar hal tersebut. Jangan cuma ikut tutorial tanpa tahu ujungnya mau jadi apa.
Caranya mudah. Buka situs lowongan kerja, misalnya JobStreet. Masukkan posisi yang ingin dikerjakan. Kalau mau jadi mobile developer, cari mobile developer. Kalau mau jadi Android developer, cari Android developer. Lalu baca syaratnya satu per satu.
Kemarin yang bertanya bahkan belum tahu mau jadi apa. Nah, ini menjadi rumit. Karena kalau dirinya sendiri saja tidak tahu mau jadi apa, apalagi orang lain, apalagi saya. Karena jurusannya pemrograman, saya contohkan saja jalur mobile developer atau Android developer.
Dari lowongan itu nanti kelihatan: butuh REST API, JSON, SQLite, Git, database, UI, testing, dan lain-lain. Semua persyaratan itu dikumpulkan. Jangan cuma dibaca. Tulis daftar keterampilannya. Baru setelah itu bawa ke ChatGPT.
“Buat perencanaan belajar 6 bulan atas skill berikut dan tambahkan link YouTube bahasa Indonesia untuk tutorial belajarnya.”
Dari situ nanti akan muncul urutan belajar per minggu. Minggu pertama apa, minggu kedua apa, latihan apa, proyek apa, sampai targetnya apa. Bukan berarti ChatGPT menggantikan usaha kita. Tetap kita yang harus belajar, praktik, bingung, error, debugging, dan menyelesaikan tugasnya. Tetapi setidaknya kita tidak berputar-putar tanpa arah.
Keterampilan Itu Harus Jadi Karya, Bukan Cuma Bahan Cerita
Saya juga menampilkan penghasilan-penghasilan ratusan juta dari siswa dan mahasiswa IDN untuk memotivasi. Kenapa perlu ditampilkan? Karena kadang kalau cuma omongan, orang kurang semangat. Tetapi ketika diperlihatkan ada uangnya, ada proyeknya, ada hasilnya, seharusnya semangat belajar untuk mandiri bisa lebih tinggi.
Saya juga meminta anak SMP IDN mendemokan sistem web yang dia buat sendiri. Sistem itu untuk pencatatan absensi dan penggajian tukang dari kontraktor properti. Ini bukan sekadar tugas sekolah. Ini contoh bahwa orang yang punya keterampilan bisa dapat proyek dan proyek itu bisa mendatangkan uang.
Sekadar membuat aplikasi sekarang sebenarnya sudah makin mudah. Dalam hitungan menit, banyak orang bisa membuat aplikasi sederhana dengan bantuan template, framework, tutorial, bahkan AI. Tetapi tantangannya bukan lagi sekadar “bisa membuat aplikasi atau tidak”. Tantangannya: bisa dapat uang tidak dari keahlian itu? Bisa menyelesaikan masalah orang tidak? Bisa membuat orang mau membayar tidak?
Kalau tidak bisa menghasilkan manfaat dunia berupa uang, atau tidak bisa menghasilkan manfaat akhirat berupa pahala, saya bilang tidak usah dipelajari. Buang umur, buang waktu. Belajar sesuatu yang kita sendiri tidak tahu tujuannya untuk apa, manfaatnya apa, hanya membuat kita sibuk tetapi tidak bergerak ke mana-mana.
Belajar Sampai Jadi Uang atau Jadi Pahala
Di akhir seminar saya sampaikan dengan bahasa yang keras. Karena kadang anak muda memang perlu ditampar dengan kalimat yang keras, bukan hanya dikasih motivasi yang enak didengar.
“Belajarlah 20 jam sehari, tidur jangan lebih dari 4 jam. Belajarlah sampai sakit. Tidak ada orang jadi atlet tetapi tidak cedera. Kalau belajar belum sampai sakit, artinya masih kurang sungguh-sungguh belajarnya.”
Yang mau saya tekankan dari kalimat itu bukan soal menghitung angka jam tidur. Pesannya adalah jangan terlalu santai. Jangan banyak alasan. Jangan merasa sudah belajar hanya karena menonton video dua jam, ikut kelas seminggu, atau punya sertifikat tetapi tidak pernah membuat karya. Belajar itu ada lelahnya, ada jalan buntunya, ada gagalnya, ada revisinya, ada berulang-ulangnya.
“Belajarlah sampai dapat uang, bukan cuma belajar asal belajar. Belajar kalau sampai tidak dapat uang atau tidak dapat pahala, namanya membuang waktu, membuang umur.”
Mahasiswa programmer seharusnya tidak cuma fokus menjadi pencari kerja. Harus mulai belajar menjadi pembuat solusi. Lihat sekitar: ada warung yang butuh pencatatan, kontraktor yang butuh absensi tukang, sekolah yang butuh sistem informasi, UMKM yang butuh katalog dan penjualan, masjid yang butuh sistem donasi, atau masyarakat yang butuh layanan digital lebih rapi. Itu semua masalah. Dan masalah adalah peluang.
Jadi jangan hanya bertanya, “Apa yang harus saya pelajari?” Mulai tanya juga, “Skill ini nanti bisa dipakai menyelesaikan masalah siapa? Bisa dijual ke siapa? Bisa jadi amal manfaat untuk siapa?” Kalau pertanyaan itu sudah jelas, belajarnya akan lebih fokus, karyanya lebih nyata, dan hasilnya insyaallah lebih terasa.
Profil Singkat Penulis
Dedi Gunawan, M.T., CCIE merupakan pendiri sekaligus pembina Yayasan IDN. Ia aktif membangun ekosistem pendidikan teknologi melalui IDN, dengan penekanan pada penguasaan keterampilan yang relevan dengan industri, karya nyata, dan kebermanfaatan ilmu.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini dan rangkuman gagasan penulis dalam sesi seminar.
