Gesit Menulis dan Memublikasikan Penelitian di Jurnal Internasional

Seorang peneliti, baik itu yang sudah bekerja maupun yang masih berstatus mahasiswa, memiliki kewajiban mendasar untuk memublikasikan hasil penelitiannya dalam suatu makalah ilmiah (“paper“). Makalah ilmiah adalah bagian paling sentral dari proses penelitian. Jika penelitian kita tidak menghasilkan makalah ilmiah, bolehlah dikatakan bahwa penelitian kita itu belum selesai atau bahkan tidak pernah terselesaikan.

Menulis makalah ilmiah bersifat integral dengan penelitian, bukan kegiatan yang terpisah. Oleh karena itu, akan lebih efisien jika kita memfokuskan penelitian untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan dalam menulis makalah, alih-alih menerawang tidak jelas ingin menulis apa ketika penelitian sudah selesai dilakukan. Hindari urutan “serial” berupa penelitian dulu kemudian menulis makalah, akan tetapi buatlah tulisan-tulisan kecil untuk mengatur penelitian yang sedang dilakukan. Tulisan-tulisan kecil itu yang kelak menjadi fondasi makalah ilmiah yang ingin kita terbitkan pada suatu jurnal.

Dalam ulasan ini, kita akan membahas beberapa tips untuk bisa menyelesaikan penulisan makalah ilmiah sembari mengerjakan penelitian.

Tulislah kerangka penelitian sebagai kerangka makalah

Kerangka penelitian itu tidak lain adalah sama persis dengan kerangka makalah ilmiah. Untuk setiap penelitian yang kita lakukan, upayakan minimalnya ada keluaran satu makalah ilmiah. Kalau kita punya tiga topik penelitian untuk satu tahun, berarti kita harus menulis tiga makalah ilmiah dalam satu tahun itu.

Di komputer kita bisa buat folder makalah ilmiah untuk setiap penelitian yang dilakukan. Beri nama kita pada folder itu untuk memacu diri, disertai tahun target selesai, dan singkatan topik penelitian. Misalnya: (1) fulan2018-penelitian1, (2) fulan2018-penelitian2, dan (3) fulan2018-penelitian3. Kita tidak peduli apakah penelitian itu akan selesai tepat waktu atau tidak sesuai target, yang penting kita ada mimpi dulu untuk melakukan penelitian itu dan menuliskan kerangkanya.

Apa isi dari kerangka penelitian? Paling sederhananya mencakup:

    Pendahuluan (Introduction), berfokus pada alasan mengapa kita melakukan penelitian, disertai motivasi dan hipotesis awal.
    Metode (Methods), menjelaskan detail eksperimen atau perhitungan (teori) yang dilakukan untuk memperoleh data penelitian.
    Hasil dan Pembahasan (Results and Discussion), menjelaskan data, grafik, ataupun rumusan yang dihasilkan dalam penelitian.
    Kesimpulan (Conclusions), berisi beberapa kalimat singkat yang menekankan signifikansi penelitian dan prospeknya di masa mendatang.

Selain kerangka mendasar yang telah disebutkan, ada baiknya kita tambahkan langsung JUDUL dan ABSTRAK pada rencana makalah ilmiah. Cara ini agak berlawanan dengan saran kebanyakan profesor senior yang biasanya menulis abstrak dan judul terakhir setelah selesai menulis seluruh isi makalah. Alasan utama dari menuliskan judul dan abstrak sejak awal itu karena biasanya judul dan abstrak sudah berisi “harapan” dan “obsesi” penelitian yang ingin diwujudkan. Jika gagal, alias tak terwujud, tinggal direvisi. Dua kali kerja, dong? Tidak juga, malah bagus jika bisa direvisi karena saat itu akan dipaksa membaca kembali judul dan abstrak lebih seksama.

Ikuti format tulisan dan gambar dari jurnal yang ditargetkan

Sejak awal mulai menulis kerangka penelitian ataupun kerangka makalah ilmiah, upayakan agar mengikuti format salah satu jurnal yang kira-kira menjadi target realistis kita untuk memublikasikan makalah. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena terkadang antara satu jurnal dengan jurnal lainnya memiliki format tulisan dan format gambar yang berbeda. Tentunya lebih efisien lagi jika kita bisa mengatur agar gaya tulisan makalah kita dan gambar-gambar yang ada di dalamnya bisa cukup fleksibel untuk beberapa jurnal. Dengan demikian, andaikan makalah kita ditolak oleh satu jurnal, kita bisa cepat beralih mengirimkannya ke jurnal yang lain.

Sedikit catatan bagi penelitian yang mengharuskan makalahnya memuat beberapa gambar, ada “standar” umum tak tertulis yang patut diikuti. Di antaranya adalah agar menggunakan palet warna yang seragam untuk gambar-gambar yang berbeda, hindari informasi redundan pada legenda, dan perhatikan label setiap sumbu harus cukup besar agar terbaca dengan mudah, minimalnya sama besar dengan ukuran huruf pada teks utama. Gunakan juga ukuran dan jenis huruf yang konsisten untuk seluruh gambar. Jika diperlukan perhatian lebih pada aspek artistik, belakangan ini penggunaan “rasio emas” (golden ratio), atau proporsi yang enak dilihat untuk setiap gambar, mulai marak di kalangan para peneliti.

Lakukan kolaborasi yang efektif

Saran ini mungkin tidak terlalu berguna bagi para “lone wolves” (serigala kesepian?) yang lebih suka menulis makalah menyendiri, terutama dari kalangan matematikawan dan fisikawan garis keras. Akan tetapi, di masa sekarang ini bagaimanapun menulis bersama-sama kolaborator tampaknya tak terhindarkan lagi. Apalagi jika kita masih dalam posisi harus menggunakan dana “hibah penelitian” yang alokasinya diatur “bos besar”, tentu beliau otomatis jadi kolaborator kita. Kolaborasi yang efektif sangat diperlukan dengan terlebih dahulu memahami karakter dari setiap kolaborator.

Dalam penulisan makalah ilmiah, paling mudahnya kita bisa bagi dua tipe kolaborator: (1) tradisional dan (2) modern. Kolaborator tradisional cenderung akan “menulis” makalah ilmiah bersama-sama kita dengan cara membaca cetakan draf makalah yang telah kita tulis di periode awal, lalu ia membubuhi masukan dan koreksi dengan tulisan tangan pada kertas draf. Setelah itu, ia akan mengirimkan masukan dan koreksi tersebut baik itu dengan diberikan pada kita secara tatap muka atau melalui surat elektronik.

Di sisi lain, kolaborator modern cenderung ingin memberi masukan dan koreksi penulisan makalah secara langsung pada berkas utama dari draf yang kita buat di komputer. Dengan perkembangan berbagai fasilitas “cloud storage” yang memungkinkan kita berbagi berkas yang sama dengan banyak orang, metode ini cukup populer di kalangan anak muda. Selalu ada sisi positif dan negatif dari tipe kolaborator yang berbeda. Sebagai peneliti utama, kita perlu mengatur para kolaborator agar tetap “berkelakuan baik”.

Ada keuntungan tersendiri pula bagi kita jika dalam proses penerbitan makalah ada kolaborator yang punya “nama besar” atau fasih bahasa Inggris. Salah satu cara “culas” (yang masih bisa diterima komunitas ilmiah) bagi para peneliti pemula dan abal-abal adalah mengikutsertakan peneliti senior yang sebetulnya tidak tahu banyak tentang penelitian kita, tetapi ia bisa mengoreksi makalah dengan baik, dari sisi muatan penelitian maupun penggunaan bahasa. Namun, perlu diingat, satu hal yang mutlak tidak boleh dilakukan adalah membawa nama kolaborator tertentu tanpa memberi konfirmasi pada orang yang bersangkutan!

Jangan pernah membuang folder penelitian yang mandek

Terakhir, jika penelitian kita tampaknya kurang berhasil atau proses penulisan makalah ilmiah terasa mandek, sebaiknya jangan pernah buang begitu saja folder-folder tulisan yang sudah kita upayakan. Bisa jadi suatu waktu kita mendapat pencerahan kembali dan mudah-mudahan mampu menyelesaikan penelitian dan makalah ilmiah tersebut.

Oleh karena itu, sebetulnya cukup bagus jika kita punya folder penelitian sebanyak-banyaknya. Barangkali dengan mimpi yang kuat dan obsesi bawah sadar terhadap beberapa topik penelitian, suatu saat semuanya bisa tuntas terselesaikan. Tapi ingat, serakah dan tak realistis ingin bisa cepat selesai pun tak boleh. Kita harus pintar-pintar menyeimbangkan ritme dan fokus pada satu pekerjaan untuk periode tertentu.

Insyaallah pada tulisan berikutnya kita akan membahas proses suatu makalah bisa diterbitkan di jurnal internasional. Dimulai dari pengiriman naskah, penelaahan oleh editor jurnal dan ahli sejawat (peer review), revisi manuskrip, hingga penerbitan.

***

Penulis:
Ahmad Ridwan Tresna Nugraha

Peneliti fisika, alumnus ITB (2008) dan Tohoku University (2013). Riwayat profesional dan penelitiannya dapat ditelusuri di Google Scholar atas nama “A. R. T. Nugraha”.