Pondok Pesantren Siaga Satu Kebakaran

Mungkin setiap bulan lebih dari satu pesantren di Indonesia terjadi kebakaran. Inilah kesimpulan yang saya dapatkan setelah melakukan penelusuran sederhana di internet yang hanya beberapa menit saja. Dalam kurun waktu dari Januari sampai September 2020 ternyata ada lebih dari 10 pesantren yang mengalamai kebakaran, dan jumlah ini hanya yang diberitakan di internet, bisa jadi jumlah realnya lebih daripada itu.

Hal ini tentu sangat ironis, karena umumnya pesantren-pesantren di tanah air dibangun secara bertahap dan dalam kurun waktu yang cukup lama dikarenakan keterbatasan dana, namun kedatangan si jago merah dapat menghanguskannya dalam beberapa jam saja, wal iyyadzubillah. Sebagian besar kebakaran yang terjadi di pesantren dipicu oleh korsleting listrik. belum lagi beberapa pesantren dibangun dengan material yang mudah dilahap api, akibatnya kebakaran dapat dengan cepat menyebar dan membesar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan

Berbeda dengan sekolah umum, pesantren tidak hanya mewadahi aktivitas belajar mengajar di kelas tetapi juga mewadahi aktivitas keseharian para santri sehingga bisa dikatakan pesantren ini beroperasi 24 jam. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko kebakaran di pondok pesantren, antara lain: 1) keterbatasan biaya, 2) faktor penghuni (anak-anak atau remaja), 3) faktor bangunan, dan 4) minim pemahaman dan kewaspadaan.

Keterbatasan biaya

Merupakan fenomena umum bila pesantren-pesantren di tanah air kita menghadapi keterbatasan biaya, mulai dari biaya pembangunan hingga ke biaya operasional sehari-hari. Keterbatasan biaya pada akhirnya menuntut beberapa aspek menjadi dinomorduakan, dan sayangnya terkadang aspek safety atau keselamatan termasuk dalam kategori “nomor dua” tersebut. Di antara faktor keselamatan yang terabaikan adalah instalasi listrik, padahal sebagian besar kebakaran terjadi disebabkan instalasi listrik yang di bawah standar. Sebagai contohnya jumlah stopkontak yang tidak memadai, sehingga penumpukan steker listrik dan penggunaan kabel ekstensi tidak dapat dihindari, akibatnya akan terjadi penumpukan panas atau overloading yang menyebabkan korsleting listrik.

Faktor penghuni 

Mayoritas penghuni pondok pesantren adalah anak-anak atau remaja. Tanpa pengawasan dan tindakan pencegahan yang memadai, anak-anak dikatakan dapat meningkatkan risiko kebakaran karena pada umumnya mereka masih belum matang dalam berpikir dan bertindak. Terkadang mereka ingin mencoba hal-hal yang baru tanpa mengetahui risiko dari apa yang dilakukannya.

Faktor bangunan

Sulitnya akses masuk mobil pemadam kebakaran ke pesantren, atau layout bangunan yang tidak mempertimbangkan akses mobil pemadam kebakaran merupakan faktor yang menghambat penanggulangan kebakaran. Sebagian pesantren juga terbuat dari material yang mudah terbakar api namun tidak disertai tindakan kewaspadaan dan kesigapan.

Minim pemahaman dan kewaspadaan

Faktor ini bisa dikatakan root cause atau akar masalah dari beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Minimnya pemahaman akan bahaya kebakaran, apa saja penyebabnya, dan bagaimana usaha pencegahannya akan menjadikan aspek-aspek standar minimal keselamatan terabaikan. Perlu dicari win-win solution antara kendala biaya dan aspek keselamatan.

Upaya Pencegahan: Peningkatan Pemahaman dan Kewaspadaan

Upaya pencegahan bertujuan untuk menekan risiko terjadinya kebakaran, yang dapat dicapai dengan meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan seluruh komunitas di pesantren akan bahaya kebakaran. Upaya pencegahan kebakaran sangat perlu diperhatikan di awal perencanaan pembangunan pesantren. Hal-hal penyebab kebakaran seperti instalasi listrik dan sumber api di dapur perlu mendapat perhatian khusus. Faktor keselamatan instalasi listrik hendaknya tidak diabaikan karena korsleting listrik merupakan penyebab nomor satu terjadinya kebakaran. Dalam hal ini sangat penting untuk meminta saran ahli agar instalasi listrik tetap memenuhi syarat aman dengan biaya yang minim. Ruangan-ruangan yang nantinya akan diisi sejumlah alat elektronik seperti ruang komputer dan kamar asrama perlu disediakan jumlah stop kontak yang memadai agar tidak terjadi penumpukan steker listrik yang bisa mengakumulasikan panas dan mengakibatkan korsleting listrik. Instalasi listrik untuk peralatan elektronik yang memiliki daya listrik besar seperti kulkas, AC, segala macam pemanas dan pompa air perlu juga diperhatikan.

Ketika pesantren telah beroperasi, edukasi tentang bahaya kebakaran dan pencegahannya termasuk hal utama yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran. Edukasi ini hendaknya menjangkau semua level di pesantren dari level pimpinan hingga santri. Edukasi tersebut meliputi hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan kebakaran, bagaimana pencegahan dan penanggulangannya. Perlu diingat bahwa edukasi tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali saja tapi perlu dilakukan secara periodik dan kontinu, sehingga kesigapan dan kewaspadaan tidak pudar.

Upaya Penanggulangan: Komponen Keselamatan Kebakaran

Upaya penanggulang bertujuan agar kebakaran tidak membesar dan menyebar sehingga kerugian jiwa dan materi dapat diminimalisasi. Ada empat komponen keselamatan kebakaran yang diatur regulasi: 1) sarana proteksi kebakaran, 2) akses mobil pemadam kebakaran, 3) sarana penyelamatan jiwa, dan 4) manajemen keselamatan kebakaran gedung.

Sarana proteksi kebakaran seperti penyediaan alat pemadam api ringan atau APAR dan sistem peringatan dini sangat penting untuk mencegah membesarnya api. Alat pemadam tradisional seperti air, pasir, dan karung goni basah bisa menjadi alternatif APAR modern. Namun perlu diketahui, penggunaan air tidak direkomendasikan untuk api yang berada di peralatan listrik dan juga tidak bisa untuk memadamkan kebakaran karena minyak.

Akses pemadam kebakaran ke lokasi sangat penting, agar petugas pemadam bisa dengan cepat menjangkau lokasi dan segera memadamkan api sebelum kebakaran meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar. Hal-hal yang dapat menghambat akses mobil pemadam kebakaran antara lain: gapura, jarak antar bangunan yang berdekatan, pohon-pohon, dan sebagainya.

Terkait sarana penyelamatan jiwa, mencegah korban jiwa tentu harus didahulukan daripada mengurangi kerugian harta. Layout denah terkait jalur evakuasi dalam bangunan sangat erat kaitannya dengan keselamatan jiwa ketika terjadi kebakaran. Untuk bangunan bertingkat, setidaknya disediakan tangga alternatif selain tangga utama. Sehingga ketika akses ke tangga utama tertutup oleh asap dan kobaran api, penghuni bangunan masih memiliki akses alternatif untuk menyelamatkan diri. Tidak sedikit korban kebakaran yang terperangkap di dalam bangunan karena akses keluar-masuk utama tertutup kobaran api dan tidak ada akses alternatif untuk menyelamatkan diri. Di antara korban kebakaran juga terjadi karena kelalaian korban dalam usahanya memadamkan api. Oleh karenanya sangatlah penting apabila terjadi kebakaran, anak-anak, wanita, lanjut usia dan kelompok rawan lainnya segera dievakuasi dan tidak diperkenankan mendekati area kebakaran.

Mengenai manajemen keselamatan kebakaran gedung, perlu dibentuk suatu gugus tugas yang bertugas memperhatikan keselamatan kebakaran di pesantren, di antara tugasnya seperti melakukan inspeksi rutin terkait hal-hal penyebab kebakaran termasuk juga bagaimana kesiapan pesantren apabila terjadi kebakaran, melakukan latihan evakuasi, dan juga memberikan edukasi dalam berbagai bentuk dan sarananya.

Demikian tulisan ini kami buat sebagai bentuk keprihatinan akan tingginya kasus kebakaran di pesantren yang merupakan aset umat Islam untuk mendidik calon-calon dai. Kami juga menghimbau pengelola pesantren agar tidak menyepelekan bahaya kebakaran dan meningkatkan kewaspadaan dan kesigapan agar resiko kebakaran dapat diminimalisasi.

Penulis:

Yusri Syahrir, S.T., M.CRP.

Alumni S1 (lulus 2005) Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian melanjutkan kuliah Magister (2012-2014) di Department of City and Regional Planning, King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), Saudi Arabia. Saat ini bekerja sebagai Environment and Sustainable Engineer, Environment, Health, and Safety Department, KFUPM.