Obrolan Ringan Seputar Alat Pembunuh Sel Kanker Buatan Dr. Warsito

Sore hari 1 Desember 2015, obrolan ringan antara para ilmuwan KIPMI melalui media online membahas seputar alat terapi kanker Dr. Warsito Purwo Taruno. Yaitu pembunuh sel kanker yang dikenal dengan Electrical Capacitance Cancer Therapy (ECCT). Di bawah label PT Edwar Technology, alat tersebut sampai saat ini belum diakui sepenuhnya secara formal sebagai alat terapi kanker oleh Kementrian Kesehatan. Walaupun sudah mengantongi nota kesepakatan riset dengan BPPT, namun pada isu terakhir, Kemenkes memberikan “teguran” kepada PT. Edwar bahwa penelitian yang dilakukan belum sesuai prosedur. Bahkan Kemenkes juga menggugat “Klinik Riset Kanker” karena dianggap tidak sesuai dengan definisi dan standar aturan mengenai klinik.

Esa Prakasa, M.Eng. menyatakan, “Kalau membaca surat tersebut, bisa disimpulkan sistem yang diusulkan pak Warsito belum mendapatkan persetujuan dari misal komite etik Kemenkes untuk diterapkan pada manusia”. “Dilema memang… karena kalau bicara riset klinis hampir tidak mungkin di Indonesia..”, Ardi Nugroho M.Farm., menimpali.

Dr. Setyanto Umar Hanif memberi penjelasan cara kerja ECCT, “Warsito pernah cerita di acara ‘Hitam-Putih’ terkait mekanisme penghancuran sel kanker secara fisika. Gelombang ECCT dicobakan ke sel sehat dan sel kanker secara in vitro. Sel Kanker memiliki sifat alamiah melakukan pembelahan sel dengan cepat, lebih cepat dari sel normal. Gelombang ECCT yang diberikan ke sel kanker ini menganggu proses pembelahan sel. Akibatnya sel kanker tidak bisa membelah dan akhirnya mati”.

Muhammad Yusuf M.Sc. menambahkan, “Dulu pernah berbicara dengan salah seorang pakar terapi radiasi di Saudi terkait dengan terapi alternatif bahwa tidak bisa sembarangan penerapannya dimana manusia sebagai objeknya”.

dr. Adika Mianoki yang nampaknya mendukung langkah Kemenkes menyatakan, “Sifat sel kanker itu beda-beda, tergantung asal sel tumornya. Penunjang penegakan diganosisnya pun beda-beda. Terapinya pun beda-beda, tidak bisa disama-ratakan. Ada yang operable, ada yang radiosensitif, ada yang kemosensitif”. “Faktor keberhasilan suatu terapi itu multifaktorial. Adapun penentuan suatu terapi sebagai SEBAB keberhasilan terapi itu perlu pembuktian ilmiah”, imbuhnya.

dr. Adika juga mengatakan, “Suatu penelitian bisa dilakukan kalo ada basic mechasnism sebagai dasar teori yang mendasari. Nah, ini yang perlu kajian lebih lanjut. Mengingat background pendidikan beliau yang bukan seorang dokter”.

Namun Ghozali, M.Sc. menyanggah pernyataan terakhir dari dr Adika, “Sebenarnya ini bisa teratasi kalau ada ‘kerjasama lintas disiplin’. Tidak ‘harus’ seorang doktor dibidang elektro harus belajar ilmu kedokteran baru bisa buat alat-alat untuk menunjang kemudahan bagi dokter … Kalau syaratnya demikian, ilmu akan kaku”. “Riset lintas disiplin. Dokter tidak harus menjadi ahli dibidang elektro. Seorang Ahli elektro tidak harus menjadi pakar kedokteran”, tambahnya.

Ardi Nugroho M.Farm. mengatakan, “Kalo saya pribadi mendukung alat buatan pak Warsito karena potensinya. Memang yang kurang itu riset klinisnya. Cuma kalau dibilang ‘alternatif’ mungkin lebih baik. Daripada di-tahdzir nanti dibawa ke Amerika, diuji klinis disana dan sukses, masuk ke Indonesia lagi sebagai terapi cuma bisa ngelus dada nanti kita”.

Beliau juga menambahkan, “Cuma ingat kasus vinkristin dan vinblastin, itu keduanya senyawa dari bunga tapak doro asli Indonesia. Cuma kurang diperhatikan, akhirnya di Amerika diuji klinis dan akhirnya dipatenkan di sana”.

Sekjend KIPMI, Amrullah Akadhinta ST., menimpali, “Tapi kita juga belum tahu Kemenkes punya pertimbangan apa mentahzir, mesti ada pertimbangannya. Laporan jumhur dokter juga mesti ada pertimbangannya. Kalau perlu ada yang disempurnakan dan diluruskan, itu yang terbaik. Kalau pun perlu dijatuhkan dan alasannya kuat pun tidak mengapa. Asal jangan sampai alasannya sentimental”.

Pernyataan Sulaiman Rasyid, M.Si. berikut ini seakan menjadi penutup diskusi hangat para ilmuwan KIPMI, “Pandangan saya sebagai lulusan S1 dan S2 Teknik Biomedika, kalau mau riset di bidang kedokteran, maka harus ajak-ajak juga orang kedokteran. Bahasanya posisikan diri sebagai bantuan. Yang susah ya cari partner dokter yang mau diajak kerjasama. Harus pintar lihat kultur orang Indonesia. By the way, for your info, paper-paper Dr. Warsito banyak dirujuk dalam pembuatan instrumen multi phase flowmeter berbasis gamma ray. Dijual di dunia migas jadi duit banyak. Yang jual orang luar malahan”.

Terlepas dari kontroversi yang ada Dr. Warsito adalah ilmuwan yang layak mendapat penghargaan, sebagaimana ia telah menyabet penghargaan Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) 2015. Penelitian beliau pun telah banyak berguna di bidang IPTEK. Dan tidak dipungkiri alat ECCT yang beliau rancang adalah setitik harapan bagi para penderita kanker di seluruh dunia.[YP]