Indahnya Agama Islam (02)

Islam Mengatur Segala Aspek Kehidupan Manusia

Diantara bukti lain yang menunjukkan kesempurnaan dan keindahan agama Islam adalah hal-hal yang dianggap “kecil” dan “remeh” oleh manusia ternyata diatur dalam ajaran Islam. Contohnya tata cara buang air yang dijelaskan dalam agama Islam dengan cukup terperinci. Kita bisa melihat kisah seorang Yahudi ketika dia berkata kepada sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu,

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ

“Sungguh Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengajari kalian tentang segala hal sampai tata cara buang air.”

 Maka beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab,

أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بَأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بَرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Benar, sungguh kami dilarang menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil, (kami juga dilarang) cebok dengan menggunakan tangan kanan atau cebok kurang dari 3 batu, atau cebok dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim no. 262)

Demikian pula, hal yang “dianggap tabu” pun seperti berhubungan suami istri telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Jika salah seorang dari kalian berdoa ketika bersetubuh dengan istrinya, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.” maka apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan di antara mereka, setan tidak akan membahayakan anak mereka selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 141 dan Muslim no. 116)

Jika hal-hal seperti ini saja diatur, bagaimana lagi dengan urusan-urusan “yang lebih besar”?

Islam Mengajarkan Berbuat Baik kepada Sesama Manusia, Meskipun Orang Kafir

Salah satu prinsip dasar agama Islam adalah al-wala’ wal bara’, yaitu menujukan cinta dan loyalitas (al-wala’) kepada sesama muslim. Dia mencintai orang-orang yang bertauhid dan loyal kepada mereka (al-wala’), serta membenci dan memusuhi (al-bara’) pelaku syirik. Allah Ta’ala telah mengharamkan orang-orang beriman untuk mencintai dan loyal kepada orang-orang kafir, meskipun mereka adalah kerabat dan saudaranya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (kekasih), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]: 23)

Meskipun demikian, Islam mengajarkan untuk tetap membalas kebaikan mereka, jika orang-orang kafir tersebut berbuat baik kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)

Islam juga melarang untuk berbuat dzalim kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap bermuamalah dengan orang-orang kafir. Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan bahwa beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan makanan pemberian orang-orang Yahudi dan melakukan transaksi dengan mereka.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا…

“Sesungguhnya seorang perempuan Yahudi mendatangkan (daging) kambing yang telah diberi racun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memakan (daging) itu ….” (HR. Bukhari no. 2617 dan Muslim no. 2190)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara baju besi beliau tergadai di sisi seorang Yahudi dengan harga tiga puluh sha’ (untuk membeli) gandum.” (HR. Bukhari no. 2916)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa tuduhan yang disematkan kepada agama Islam, bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan intoleransi, tidak menghormati agama lain, atau mengajarkan permusuhan dan kedzaliman terhadap agama non-muslim dan para pemeluknya, adalah tuduhan yang tidak benar sama sekali.

Demikianlah sedikit pembahasan yang menunjukkan keindahan agama Islam dan masih banyak lagi aspek keindahan Islam yang belum dibahas mengingat keterbatasan tempat untuk tulisan ini. Dengan semakin mendalami ajaran agama Islam dalam berbagai aspeknya, seorang muslim akan semakin paham tentang keindahan agama Islam yang dianutnya. Sehingga hal itu akan semakin menyejukkan dan menentramkan jiwanya, serta semakin menambah kemantapan imannya. Dengan mengetahui keindahan ajaran Islam, seorang muslim pun akan terbentengi dari pemikiran atau syubhat yang menyimpang dari ajaran Islam. [Selesai]

***


Selesai ditulis di waktu isya’, Rotterdam NL 11 Jumada Awwal 1438

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim