Siapa Yang Dimaksud Dengan Sahabat Nabi?

Definisi Sahabat Nabi

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menjelaskan:

كُلُّ مَن صَحِبَه سَنةً أو شَهرًا أو يَومًا أو ساعةً ورَآهُ فهوَ مِن أصحابِه، لهُ مِنَ الصُّحبةِ عَلى قَدْرِ ما صَحِبَهـ

“Setiap orang yang membersamai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam baik setahun, sebulan, sehari, atau sesaat saja, dan orang yang pernah melihat beliau, maka mereka adalah sahabat Nabi. Mereka memiliki kadar shuhbah sesuai dengan kadar kedekatannya dengan Nabi”. [1]

Imam Al Bukhari rahimahullah mengatakan:

مَن صَحِبَ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أو رَآهُ مِنَ المُسْلِمينَ فهوَ مِن أصحابِه

“Siapa yang membersamai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam atau pernah melihat beliau dari kalangan kaum Muslimin, maka ia adalah sahabat Nabi”. [2]

Imam As Safarini rahimahullah mengatakan:

الصَّحابيُّ مَنِ اجتَمَعَ بالنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مُؤْمِنًا ولَو لحظةً، ومات عَلى ذلك ولَو تَخَلَّله رِدَّةٌ

“Sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan beriman kepada beliau, walaupun bertemunya hanya sebentar, dan wafat dalam keadaan iman, walaupun sempat murtad”. [3]

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mendefinisikan sahabat Nabi:

مَنْ رَأى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَالِ إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً

“Sahabat Nabi adalah orang yang pernah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan Islam. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama. Walaupun tidak meriwayatkan hadis sama sekali”. [4]

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah juga menjelaskan: “Definisi paling sahih yang aku temukan tentang sahabat Nabi adalah: orang yang bertemu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan beriman kepadanya, lalu meninggal dalam keadaan Islam. Maka termasuk dalam cakupan ‘orang yang bertemu Nabi’ itu adalah: orang yang lama atau singkat pertemuannya dengan Nabi, demikian juga orang yang meriwayatkan hadis dari Nabi ataupun yang tidak, demikian juga orang yang ikut berperang bersama Nabi atau yang tidak ikut, demikian juga orang yang melihat Nabi hanya sekali saja tanpa duduk bersamanya, bahkan demikian juga orang yang tidak melihat Nabi karena ada halangan seperti kebutaan”. [5]

Maka dari penjelasan para ulama, seseorang dikatakan sahabat Nabi jika terpenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Hidup di zaman Nabi.
  2. Membersamai Nabi walaupun sebentar, baik dengan melihat Nabi atau tidak melihat Nabi karena adanya penghalang.
  3. Ketika membersamai Nabi, dalam keadaan Muslim.
  4. Wafat dalam keadaan Muslim.

Adapun orang-orang yang bertemu dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun tidak memenuhi semua kriteria-kriteria di atas, maka mereka bukan sahabat Nabi. Maka Abu Lahab, Abu Jahal, Ubay bin Khalaf, bukanlah sahabat Nabi walaupun bertemu dengannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Maka termasuk di dalam cakupan sahabat Nabi, orang yang sempat murtad kemudian kembali masuk Islam, seperti al-Asy’ats bin Qais. Karena ia termasuk orang yang murtad setelah wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu ia dibawa sebagai tawanan kepada Abu Bakar. Kemudian ia bertobat, dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menerima tobatnya. Dan yang tidak termasuk dalam cakupan dari sahabat Nabi yaitu orang yang beriman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam semasa hidupnya namun tidak sempat bertemu dengannya, seperti Najasyi. Demikian juga orang yang murtad dan meninggal dalam keadaan murtad, seperti Abdullah bin Khathal yang dibunuh pada hari Fathu Makkah, dan Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf yang murtad pada masa Umar dan meninggal dalam keadaan murtad”. [6]

Jumlah Sahabat Nabi

Karena sahabat Nabi adalah orang yang pernah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan Islam dan wafat dalam keadaan Islam, tentu yang memenuhi kriteria ini sangat banyak sekali. Sehingga jumlah sahabat Nabi tidak bisa dipastikan berapa banyaknya. Namun para ulama membuat beberapa perkiraan. Abu Zur’ah Ar Razi rahimahullah menjelaskan:

شَهِدَ مَعَهُ حَجَّةَ الوَدَاعِ أرْبَعُوْنَ ألْفاً، وَكَانَ مَعَهُ بِتَبُوْكٍ سَبْعُوْنَ ألْفاً، وَقُبِضَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ مِائَةِ ألْفٍ وَأرْبَعَةِ عَشََر ألفاً مِنَ الصَّحَابَةِ

“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada’ bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”. [7]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Para sahabat jumlahnya sangat banyak, dan tidak mungkin dipastikan secara pasti berapa jumlah mereka secara tepat. Namun, dikatakan oleh sebagian ulama bahwa diperkirakan jumlah mereka mencapai 114.000 orang”. [8]

Mengenal Beberapa Sahabat Nabi

1. Sahabat Yang Paling Pertama

  • Yang pertama masuk Islam secara umum: Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu’anha.
  • Yang pertama masuk Islam dari kalangan laki-laki: Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anhu. Nama asli beliau adalah Abdullah bin Utsman.
  • Yang pertama masuk Islam dari kalangan wanita: Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu’anha.
  • Yang pertama masuk Islam dari kalangan pemuda: Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu.
  • Yang pertama dari maula (hamba sahaya) : Zaid bin Al Haritsah radhiallahu’anhu.

Adapun Waraqah bin Naufal bin Asad Al Qurasyi, ia adalah sepupu Khadijah yang sempat bertemu dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau mendapatkan wahyu pertama. [9]

Status Waraqah bin Naufal ini diperselisihkan oleh para ulama dalam tiga pendapat:

1. Pendapat yang mengatakan bahwa beliau termasuk sahabat Nabi. Pendapat ini dikuatkan oleh Al Khathib Al Baghdadi, Ath Thabari, Al Baghawi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan.

2. Pendapat yang mengatakan bahwa beliau tidak termasuk sahabat Nabi. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Adz Dzahabi dan Al Hafizh Ibnu Hajar.

3. Para ulama yang tawaqquf. Seperti Ibnu Mandah dan Al Kirmani.

Yang rajih (kuat), wallahu a’lam, ia bukan sahabat Nabi karena wafat di masa fatratul wahyi, setelah Nabi mendapatkan wahyu pertama sebelum beliau di utus menjadi Rasul. Namun Waraqah bin Naufal termasuk orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Sahabat Yang Terakhir

Ulama ijma’ (sepakat) bahwa sahabat Nabi yang paling terakhir hidup adalah Abu Thufail Amir[10] bin Watsilah al-Laitsi al-Kinani al-Qurasyi radhiallahu’anhu. Adz Dzahabi rahimahullah mengatakan: “Abu Thufail adalah penutup bagi siapa saja yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di dunia. Dan keadaannya tetap seperti itu pada masa para tabi’in, para tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Tidak ada seorang pun manusia setelah beliau yang berkata: “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. Hingga muncul di India, 500 tahun setelah itu, seseorang bernama Baba Ratan. Dia mengaku sebagai sahabat Nabi, menyakiti dirinya sendiri, dan didustakan oleh para ulama. Maka barang siapa yang membenarkannya dalam pengakuannya itu, semoga Allah memberkahi akalnya, dan kami memuji Allah atas keselamatan dari kesesatan tersebut”. [11]

Abu Thufail lahir ketika tahun terjadi perang Uhud (tahun 3H). Adz Dzahabi mengatakan: “Abu Thufail melihat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika Nabi sedang melaksanakan Haji Wada’, saat beliau menyentuh Hajar Aswad dengan tongkatnya, kemudian Nabi mencium tongkat tersebut”. [12] Beliau juga mengatakan: “Diriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia berkata: Aku mendapati kehidupan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selama delapan tahun”[13].

Ada perbedaan pendapat ulama tentang kapan beliau wafat. Sebagian ulama berpendapat beliau wafat pada tahun 100H, sebagian mengatakan pada tahun 102H, sebagian mengatakan pada tahun 107H, sebagian mengatakan pada tahun 110H. Dan yang terakhir inilah yang dikuatkan oleh Adz Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A’lamin Nubala.

3. Istri-Istri Nabi

Para istri Nabi termasuk dalam cakupan sahabat Nabi. Karena mereka tentu melihat Nabi dalam keadaan iman dan semuanya wafat dalam keadaan iman. Nama istri-istri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:

1. Khadijah binti Khuwailid radhiallahu’anha.

2. Saudah binti Zam’ah radhiallahu’anha.

3. ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anha.

4. Hafshah binti Umar radhiallahu’anha.

5. Zainab binti Khuzaimah radhiallahu’anha.

6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al Makhzumiyyah radhiallahu’anha.

7. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiallahu’anha.

8. Juwairiyyah binti Al Harits radhiallahu’anha. Aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjadi Juwairiyyah.

9. Maimunah binti Al Harits Al Hilaliyyah radhiallahu’anha.

10. Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab radhiallahu’anha.

11. Zainab binti Jahsy radhiallahu’anha.

Istri-istri Nabi juga termasuk ahlul bait Nabi. Allah ta’ala berfirman tentang istri-istri Nabi:

إنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. [14]

Adapun Mariyah al-Qibthiyah radhiallahu’anha, pendapat yang rajih adalah bahwa beliau adalah merupakan budak Nabi, bukan istri beliau. Para ulama juga berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid An Nadhriyyah radhiallahu’anha, apakah termasuk istri ataukah budak Nabi. Yang rajih beliau juga termasuk budak Nabi.

Adapun beberapa shahabiyyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang memahami sirah Rasulullah tidak ada yang mengetahui adanya pendapat ini (mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah:

  1. Rasulullah datang kepada Umaimah binti Nu’man Al Juniyyah radhiallahu’anha untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, Al Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah pun menghindarinya dan tidak menikahinya.
  2. Demikian juga Amrah binti Yazid Al Kalbiyyah radhiallahu’anha.
  3. Juga shahabiyyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah.
  4. Juga shahabiyyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Quran.

Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya yang disebutkan dalam kitab Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim[15].

4. Putra-Putri Nabi Shallallahu’alahi Wasallam

Putra-putri Nabi selain digolongkan sebagai ahlul bait Nabi, mereka juga termasuk dalam cakupan sahabat Nabi. Jumlah putra-putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ada tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan. Berikut ini perinciannya:

  1. Al Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim Shallallahu’alaihi Wasallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid Al Qurasyiah radhiallahu’anha.
  2. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan Ath Thahir dan Ath Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiallahu’anha.
  3. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Ibunya adalah Mariyah Al Qibthiyyah radhiallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridai mereka semua.
  4. Zainab radhiallahu’anha.
  5. Ruqayyah radhiallahu’anha.
  6. Ummu Kultsum radhiallahu’anha.
  7. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiallahu’anha.

Sehingga semua anak-anak Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dari rahim Khadijah radhiallahu’anha kecuali Ibrahim radhiallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah Al Qibthiyyah radhiallahu’anha. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain.

5. Khulafa ar-Rasyidin

Para sahabat yang termasuk al-Khulafa ar-Rasyidin memiliki keutamaan yang tinggi. Nabi Shallallahu’alahi Wasallam mewasiatkan kita untuk mengikuti jalannya mereka. Dari Al Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [16]

Dan ulama sepakat bahwa al-Khulafa ar-Rasyidin adalah yang paling utama dari semua sahabat secara mutlak. Mereka adalah empat orang sahabat Nabi: Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah radhiallahu’anhu, Abu Hafs Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, Abu Abdillah Utsman bin Affan radhiallahu’anhu dan Abul Hasan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu.

6. Para Sahabat Yang Mengikuti Bai’atur Ridhwan

Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam berangkat dari Madinah menuju ke Mekkah di tahun ke-6 Hijriyah bertekad untuk melakukan umrah bersama dengan 1500 orang sahabat Nabi. Walaupun ketika itu Mekkah masih dikuasai oleh kaum musyrikin Quraisy. Ketika mereka tiba di Hudaibiyah, Nabi mengutus Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu untuk mengabarkan orang-orang Quraisy bahwa mereka datang dengan damai hanya untuk berumrah. Namun orang-orang Quraisy tidak mau mengizinkan kaum Muslimin dan mereka menawan Utsman bin Affan. Maka Nabi Shallallahu’alahi Wasallam menyiapkan para sahabatnya untuk berperang dan membaiat mereka untuk berperang sampai mati. Para sahabat pun berba’iat kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam. Peristiwa ini disebut dengan Bai’atur Ridhwan.

Para Sahabat Nabi yang berbai’at kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan, memiliki keutamaan tersendiri. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, lalu Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. [17]

Dalam hadis dari Ummu Mubasyir radhiallahu’anha, bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ النَّارَ -إنْ شاءَ اللَّهُ- مِن أصْحابِ الشَّجَرَةِ أحَدٌ، الَّذِينَ بايَعُوا تَحْتَها

“Tidak akan masuk ke neraka, insyaallah, para sahabat Nabi yang berbai’at kepada Nabi di bawah pohon (yaitu Bai’atur Ridhwan)”. [18]

Di antara mereka ada Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Mahmud bin Maslamah, Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ta’ala ‘anhum.

7. Muhajirin

Kaum Muhajirin adalah para sahabat Nabi yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah di tahun 1 Hijriyah. Kaum Muhajirin memiliki keutamaan tersendiri. Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. [19]

Allah Ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati satu golongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka”. [20]

Para sahabat berhijrah ke Madinah secara bertahap dan tersembunyi dari orang-orang Quraisy. Yang pertama kali tiba di Madinah adalah Abu Salamah bin Abdil Asad radhiallahu’anhu.

8. Anshar

Kaum Anshar adalah para sahabat Nabi di Madinah yang menyambut dan membantu kaum Muhajirin yang berhijrah dari Mekkah. Allah Ta’ala memuji mereka di dalam Al Qur’an sebagaimana dalam dua ayat di atas. Allah Ta’ala juga berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْإِيمانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [21]

Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

 آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”. [22]

9. Sepuluh Sahabat Nabi Yang Dijamin Surga

Ada sepuluh sahabat Nabi yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa mereka pasti masuk surga. Tentunya sepuluh sahabat ini memiliki keutamaan tersendiri. Mereka adalah:

1. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu’anhu.

2. Umar bin al Khathab radhiallahu’anhu.

3. Utsman bin Affan radhiallahu’anhu.

4. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu.

5. Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu’anhu.

6. Az-Zubair bin Awwam radhiallahu’anhu.

7. Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu’anhu.

8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu.

9. Sa’id bin Zaid radhiallahu’anhu.

10. Abu Ubaidah bin Al Jarrah radhiallahu’anhu.

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wasallam bersabda,

أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga”. [23]

10. Sahabat Yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits

Berikut ini para sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam. Tentunya mereka memiliki keutamaan khusus karena mereka memiliki jasa yang besar terhadap kaum Muslimin karena menjadi perantara ilmu antara Rasulullah dengan kaum Muslimin. Mereka adalah:

1. Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahu’anhu. Beliau meriwayatkan 5374 hadis.

2. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma. Beliau meriwayatkan 2630 hadis.

3. Anas bin Malik radhiallahu’anhu. Beliau meriwayatkan 2286 hadis.

4. Aisyah bintu Abi Bakar radhiallahu’anhuma. Beliau meriwayatkan 2210 hadis.

5. Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma. Beliau meriwayatkan 1660 hadis.

6. Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu. Beliau meriwayatkan 1540 hadis.

7. Abu Sa’id Sa’ad bin Malik Al Khudri radhiallahu’anhu. Beliau meriwayatkan 1170 hadis. [24]

11. Muadzin Nabi

Beberapa sahabat Nabi yang bertugas sebagai muazin di masa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam adalah:

1. Bilal bin Rabah radhiallahu’anhu. Beliau adalah muazin tetap di Masjid Nabawi kecuali azan kedua salat Subuh.

2. Abu Mahzhurah al Jumahi radhiallahu’anhu. Beliau adalah muazin tetap di Masjidil Haram.

3. Amr bin Ummi Maktum radhiallahu’anhu. Beliau adalah muazin azan kedua pada salat Subuh di Masjid Nabawi.

4. Sa’ad al Qarazh radhiallahu’anhu. Beliau adalah muazin di Masjid Quba’. [25]

Inilah beberapa profil sahabat Nabi radhiallahu’anhum. Hendaknya kita berusaha untuk mengenal mereka, mempelajari sejarah dan kehidupan mereka karena mereka adalah sebaik-baik generasi.

Wallahu a’lam.

Catatan Kaki :

[1] Ushulus Sunnah hal.40
[2] Shahih Al Bukhari (4/373)
[3] Lawami’ul Anwar al-Bahiyah (1/52)
[4] Al Ba’its Al Hatsits Fikhtishari ‘Ulumil Hadits (1/24)
[5] Al Ishabah fi Tamyizis Shahabah (1/158)
[6] Musthalahul Hadits hal.33
[7] Al Ba’its Al Hatsits Fikhtishari ‘Ulumil Hadits (1/25)
[8] Musthalahul Hadits hal.33
[9] HR. Al Bukhari no. 6982
[10] Sebagian ulama mengatakan nama beliau adalah Amr bin Watsilah, bukan Amir
[11] Siyar A’lamin Nubala (3/467-468)
[12] Siyar A’lamin Nubala (3/468)
[13] Siyar A’lamin Nubala (3/469)
[14] QS. Al Ahzab: 33
[15] Zadul Ma’ad (1/79)
[16] HR. Abu Daud no.4607, At Tirmidzi no.2676, Ibnu Majah no.42, Ahmad no.17144. At Tirmidzi mengatakan: “hadits ini hasan shahih”. Dishahihkan oleh Al Iraqi dalam Zadul Ma’ad (1/79Al Ba’its ‘ala Khallash (no.1). Dishahihkan Al Albani dalam Takhrij Kitab As Sunnah libni Abi Ashim no.1037. Dishahihkan oleh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad (no. 17146).
[17] QS. Al-Fath: 18
[18] HR. Muslim no.2496
[19] QS. At Taubah: 100
[20] QS. At Taubah: 117
[21] QS. Al Hasyr: 7
[22] HR. al-Bukhari no.3784
[23] HR. at-Tirmidzi no. 3747 dan Ahmad (1/193). Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Tirmidzi.
[24] Qawa’id at Tahdits, Syaikh Jamaluddin Al Qasimi, hal. 72
[25] Fathul Baari (3/45)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *