Membangun Imunitas Bisnis Sekaligus Menjadi Pahlawan Dalam Krisis

Wabah Covid-19 yang datang tiba-tiba ini mengejutkan semua pihak, baik pemerintah, pengusaha, sampai ke rakyat biasa. Semua pihak berusaha memikirkan bagaimana respon terbaik dalam menghadapi wabah ini, sampai-sampai pemerintah mengumumkan untuk melakukan physical/social distancing secara meluas dan serius. Seluruh pihak harus semaksimal mungkin menjalankan arahan ini karena disamping kita harus taat kepada ulil amri, juga karena memang secara ilmiah inilah solusi terbaik yang harus dilakukan. Namun tentunya masing-masing pihak memiliki tantangan yang berbeda-beda dalam menjalankan physical/social distancing. Bagi karyawan posisi menengah keatas dalam perusahaan mungkin tidak ada masalah, tapi bisa jadi bagi karyawan posisi bawah atau mungkin pemilik bisnis itu sendiri menjadi masalah yang besar. Kali ini penulis akan fokus ke para pengusaha atau pemimpin perusahaan.

Bagi pengusaha atau pemimpin perusahaan, tentunya situasi ini merupakan situasi yang dilematis. Di satu sisi, penulis yakin mereka pun mengamini bahwa physical/social distancing merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan demi kepentingan yang lebih besar. Namun disisi lain, mereka perlu memikirkan juga keberlangsungan bisnis. Secara umum, situasi ini bisa diatasi dengan berfikir jangka panjang, tidak jangka pendek. Meskipun tetap saja mungkin tidak dapat diterapkan untuk semua kasus atau jenis bisnis. Beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan jangka panjang untuk menerapkan Work From Home (WFH) antara lain:

  1. Pentingnya faktor manusia dalam bisnis.

    Pada zaman dahulu, faktor utama keberhasilan bisnis adalah kepemilikan aset berwujud, seperti pabrik, alat produksi, dan lain sebagainya. Perusahaan yang memiliki aset berwujud terbesar akan menjadi penguasa pasar. Namun situasi ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, perusahaan terbaik yang menguasai pasar adalah perusahaan dengan penguasaan aset tidak berwujud, seperti hak cipta, lisensi, dan lain sebagainya. Dan komponen utama terciptanya kekuatan aset tidak berwujud itu adalah manusia. Bagaimana sebuah bisnis akan bisa tetap berjalan, apalagi menjadi penguasa pasar, jika manusianya saja tidak merasa aman? Kalaupun dalam waktu dekat para karyawan terpaksa masih bertahan di perusahaan tersebut, tapi pasti karyawan kemudian akan mencari perusahaan yang membuat mereka merasa lebih aman dan dihargai.

  2. Dampak wabah terhadap krisis ekonomi.

    Sebagaimana diketahui, bahwa wabah Covid-19 ini sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi, seperti perlambatan ekonomi, turunnya nilai tukar mata uang, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi bisnis kita sendiri. Apa gunanya tetap berproduksi jika pelanggan tidak mampu membeli produk. Sehingga makin lama wabah ini terjadi, maka makin menipis cadangan kas yang dimiliki untuk menghidupi perusahaan. Dan sampai di satu titik tertentu, perusahaan sudah tidak mampu menghidupi perusahaannya alias bangkrut.

  3. Digitisasi bisnis sebagai kapabilitas utama bisnis di era digital.

    Tidak bisa dipungkiri, tingkat adopsi digital sebuah perusahaan merupakan salah satu kunci sukses keberhasilan bisnis di era digital. Adopsi digital ini bisa dilakukan dalam bentuk digitisasi maupun digitalisasi. Digitisasi artinya menggunakan teknologi digital untuk mengubah proses bisnis perusahaan agar lebih efektif dan efisien. Sedangkan digitalisasi artinya memperkuat produk atau jasa yang kita jual dengan solusi-solusi atau fitur-fitur digital. Mungkin sejenak kita lupakan digitalisasi dalam situasi saat ini karena membutuhkan investasi yang tidak sedikit, dalam bentuk pengembangan produk maupun pemasaran. Namun setidaknya perusahaan dapat meningkatkan tingkat adopsi digitalnya secara signifikan dalam waktu singkat dalam bentuk digitisasi, karena penggunaan teknologi digital merupakan salah satu kunci utama produktivitas karyawan meskipun dalam situasi WFH. Saat ini ada begitu banyak teknologi digital yang murah atau bahkan gratis yang dapat dipilih. Anggap saja saat ini masa uji coba untuk menemukan bentuk perubahan proses bisnis yang lebih efektif dan efisien, serta teknologi digital yang tepat untuk perusahaan, sekaligus dengan memberikan training digital gratis bagi seluruh karyawan. Jika situasi sudah stabil, maka perusahaan bisa menerapkan proses bisnis baru dengan digitalisasi tersebut secara formal dan sistematis sehingga perusahaan bisa beroperasi secara lebih efektif dan efisien. Ini merupakan kekuatan bisnis jangka panjang perusahaan.

Oleh karena itu, para pengusaha dan pemimpin perusahaan memiliki peluang yang sangat strategis untuk memastikan keberlangsungan bisnis perusahaan jangka panjang sekaligus menjadi pahlawan baik bagi karyawan dan keluarganya maupun bangsa Indonesia secara keseluruhan. Tentunya peluang ini bukan tanpa risiko. Pasti ada biaya yang harus dikeluarkan, namun akan jauh lebih kecil dibanding dengan risiko yang muncul jika physical/social distancing ini gagal dijalankan. Semoga Allah memberi keberkahan bagi perusahaan yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun juga memikirkan kepentingan yang lebih besar. Dan semoga Allah segera mengangkat ujian ini dari bangsa kita, tentunya dengan komitmen dari semua pihak untuk mendukung physical/social distancing, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri (Q.S. Ar-Ra’d:11)

Penulis : Andi Hakim Kusuma, S.T., M.Sc.