Tips Pengembangan Skill yang Diperlukan di Dunia Kerja: Kisah Perjalanan Penuh Tantangan ke Hammerfest, Norwegia

1 Januari 2007, saya melakukan penerbangan yang sangat panjang, yang akan mengubah perjalanan hidup saya dengan ekstrem. Bontang-Balikpapan dilalui dengan pesawat baling-baling DH7, dilanjutkan Silk Air rute Balikpapan-Singapura. Kemudian, naik Lufthansa rute Singapura-Frankfurt-Oslo, Norwegian Airlines ke Tromso, dan terakhir kembali naik pesawat baling-baling DH8, dari Tromso ke Hammerfest, kota paling utara di dunia. Perjalanan panjang dan melelahkan, saya sempat jatuh sakit pusing luar biasa di perjalanan.

Sesampainya di Hammerfest, udara dingin minus 40 derajat. Di bulan Januari, suhu di Hammerfest bisa mencapai minus 50 derajat dan tidak ada matahari sama sekali. Tantangan lain soal makanan, yang bisa dimakan di kantin hanyalah ikan salmon, yang waktu itu saya belum doyan. Namun, dari awal saya bertekad, fokus kerja baik, anggap remeh semua permasalahan.

Pada hari pertama masuk kantor yang saya tanyakan adalah tentang tempat salat dan ini sudah saya sampaikan saat interview. Di kantor yang tadinya tidak ada tempat salat, karena saya minta, akhirnya mereka menyiapkan ruangan salat buat saya. Kemudian, saya menemukan komunitas orang muslim Somalia sehingga bisa ikut salat berjamaah dan salat Jumat bersama mereka. Pengaturan waktu salat mengacu pada fatwa Syaikh Utsaimin tentang hadis saat turunnya Dajjal. Qaddarallah, imam salat adalah orang Somalia yang pernah belajar di Madinah dan mengacu pada dalil yang sama.

Tantangan di pekerjaan tidak kalah rumitnya, semua peralatan kontrol dan instrumentasinya menggunakan ABB, yang tidak ada satu pun di PT. Badak atau PT. Arun tempat saya bekerja sebelumnya. Buku-buku manual masih banyak dalam bahasa Norwegia, hanya sebagian yang sudah dalam bahasa Inggris. Saat itu belum ada Google Translate yang dengan mudah menerjemahkan kalimat. Hanya ada kamus daring yang menerjemahkan kata demi kata. Itulah yang saya lakukan dengan kesabaran sehingga atasan saya terkejut saya bisa menyelesaikan pekerjaan menyusun spare parts yang petunjuk penyusunannya dalam bahasa Norwegia.

Langkah pertama yang saya lakukan setelah mengenal budaya kerja di Norwegia adalah mengambil dossier RFS (ready for startup) peralatan fire gas system (FGS). Tujuannya sambil mengecek seluruh FGS yang terpasang di seluruh tempat di pabrik, saya dapat mengenal pabrik secara keseluruhan dan sambil melihat seluruh peralatan instrumen yang dipasang. Ini langkah awal yang saya anggap penting, yaitu menguasai secara global.

Langkah kedua saya setiap pagi membuka sesi mengajarkan semua peralatan instrumentasi, control, metering, dan analyzer yang terpasang di pabrik LNG kepada para engineer muda Norwegia. Ini memang sudah menjadi kebiasaan saya, sharing ilmu. Ide ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari manajemen Statoil. Personil yang ikut terus bertambah, tidak hanya engineer muda bidang instrumen, tetapi juga process engineer. Ini cara yang efektif membangun kepercayaan, membangun network dan sekaligus mendapatkan ilmu dari mereka saat diskusi.

Berikutnya pekerjaan menjadi mudah. Profil saya masuk ke majalah Statoil dengan judul “Help from Indonesia” (Gambar 1). Dari situlah saya menerima beberapa tawaran kerja yang lain, salah satunya ke Total Gestion International.

Penulis :


Aslam Salimudin merupakan alumni S1 di Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan melanjutkan kuliah Magister Teknik di Jurusan Teknik Industri Institut Technology Bandung. Awal bekerja bergabung di Astra mengikuti program Astra Basic Training Program. Kemudian mengikuti program Bimbingan Profesi Sarjana Teknik Pertamina (BPST 14) di Palembang selama 9 bulan. Selanjutnya ditugaskan di PT. Arun, Aceh selama 3 tahun, kemudian dipindah tugaskan ke PT. Badak Bontang selama 13 tahun. Pada tahun 2007, pindah tugas ke Hammerfest LNG di Norway untuk membantu startup proyek LNG pertama di Eropa. Kemudian pada tahun 2008, pindah bekerja di Total Gestion International di Geneva, Swis, yg merupakan bagian dari perusahaan Total Energy Perancis hingga saat ini. Selama di bekerja di Total, telah berpindah pindah tugas di Perancis, Yaman, Angola dan Myanmar.