ANAK NAKAL ATAU PINTAR?

Kamu ini nakal banget sih”

Nanti dicubit ya jika masih nakal”

Kamu bisa diam ga sih….kok dari tadi berisik banget”

Keluar kamu dari kelas !!!”

Ambil kue yang didalam..jangan yang disini, disini itu untuk tamu”

Cerewet banget sih……!!!

Itulah beberapa contoh kalimat yang sering kita keluarkan kepada anak atau murid kita. Sebuah perintah yang berisi harapan agar anak bisa mengikuti kemauan dan tuntutan kita. Jika memang terjadi, apakah kita termasuk orang tua yang dapat memahami karakter dan sifat anak kita yang sebenarnya? Bagaimanakah sikap kita? Marah, tersenyum atau diam saja? Kenyataannya kita akan cenderung untuk memarahi seorang anak yang suka loncat-loncat dibangku/sofa, tidak bisa diam saat sedang belajar, membongkar mainannya (terima bongkar namun tidak terima pasang), lari-larian, yang selalu bertanya, dll, sehingga anak tersebut mendapat julukan baru yakni anak nakal, anak hyper active, anak bermasalah, anak cerewet, dsb.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Fenomena yang di atas adalah sebuah fenomena yang bisa terjadi pada siapapun dan kapanpun. Seseorang bisa berubah dalam menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda baik itu dalam kemampuan vokalnya, audionya, motoriknya dan afektifnya. Contohnya adalah pada saat kita diminta untuk pidato di depan orang banyak, di saat presentasi, atau hadir di lingkungan baru. Dan hal ini bukan hanya dialami oleh orang dewasa saja namun juga dialami oleh anak-anak. Ketika kedatangan tamu di rumah kita, dan di saat terjadi dialog antara kita dengan tamu tersebut, maka kecenderungan terbesar anak adalah minta “ikut” berada di forum tersebut. Perbedaannya adalah anak tersebut mungkin tidak bisa “lancar” dalam mengikuti proses dialog tersebut, namun sikap yang mereka keluarkan akan sangat berbeda dari kesehariannya. Misalnya, anak akan minum air atau makan makanan yang kita suguhkan untuk tamu, yang sebenarnya makanan atau minuman tersebut sebelumnya tidak “disentuh” oleh anak. Apa sebenarnya fenomena ini? Ini adalah sebuah proses pembelajaran akan eksistensi dirinya. Anak tersebut butuh diajak bicara, dijelaskan kemampuan yang dimilikinya dan pencapaianya kepada tamu oleh kedua orang tuanya. Jangan tinggalkan atau diamkan anak kita pada saat tamu berkunjung ke rumah kita.

Extra Ordinary Kids

Pembahasan kali ini dipersempit kepada perilaku siswa/i saat di sekolah atau saat belajar di luar sekolah. Saya sering mendengar orang tua yang mengeluh akan perilaku anaknya yang tidak bisa diam, selalu membuat kegaduhan di kelas, belajarnya malas-malasan, tidak fokus di kelas, membuat coret-coretan di kertas, menundukkan kepalanya, dan lain-lain. Namun jika diberikan soal dari sebuah materi pelajaran yang baru maka anak ini akan sangat cepat mengerti apa yang telah dijelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketahuilah bahwa anak ini memiliki “IQ” di atas rata-rata temannya. Jika begitu, kenapa anak itu jadi “biang masalah”? Jawabannya adalah karena mereka jenuh atau bosan dengan pola atau metode mengajar guru yang monoton, materi yang selalu berulang-ulang dibahas. Sehingga mereka sudah tidak merasa tertantang lagi. Solusinya apa? Kelompokkan mereka dalam sebuah kelompok kelas yang kecerdasan teman-temannya sama dengan dirinya, berikan metode mengajar yang bervariasi, selalu berikan soal-soal baru, ajak mereka berpikir dan mencari jawabannya secara mandiri, selalu ajak berdiskusi, ajak mereka untuk terus membaca. Fokuskan kepada potensi anak, berikan porsi terbesar dari mata pelajaran yang menjadi potensinya. Berikan pujian kepada mereka. baik itu dalam proses, maupun hasil dan ajak mereka untuk bisa menghargai karya mereka dan karya orang lain. Sehingga kompetensi akademik dan karakter dapat berkembang dengan baik dan berjalan dengan beriringan.

Metamorfosis

Wahai para guru dan orang tua, Allah ‘Azza Wa Jalla telah memberikan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga dari seekor ulat bulu. Sebelum berubah menjadi kupu-kupu yang indah, mereka adalah binatang yang menjijikkan dan menakutkan. Sangat banyak cibiran dan perlakuan kasar yang diterimanya. Kita cenderung untuk membuang ulat bulu ini, bahkan dengan tidak ragu-ragu membunuhnya. Namun apa yang terjadi di saat ulat bulu ini berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah? Semua orang akan memuji keindahan bentuk dan komposisi warnanya, dan kehadirannya akan ditunggu. Kenapa seperti itu?

Ketahuilah wahai para guru dan orang tua, pendidikan itu berproses, tidak instan. Perlu keseragaman mendidik di sekolah dengan di rumah. Misalnya, jangan sampai berbeda materi pelajaran yang diajarkan sekolah dengan di rumah. Perlu komitmen, kesabaran, kecermatan melihat potensi anak. Contohnya, jangan paksakan anak sesuatu yang tidak disukainya. Setelah potensi anak diketahui, maka berikan fasilitas sarana dan prasarana baginya. Karena pendidikan itu menemukan potensi anak dan mengembangkannya. Jangan paksa pohon pisang berbuah kelapa, jangan paksa ikan untuk berjalan di darat. Jika semua diatas dilakukan, insya Allah anak-anak kita akan dipuji akan keindahan akhlaq dan “IQ”nya.

Adakah anak yang bodoh?

Tidak ada, yang ada adalah cara mengajar yang tidak sesuai dengan cara belajar anak.

Oleh : Hamdhan Siregar, ST, MM