Reportase Kajian Kepemimpinan Pemuda Muslim #3

Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, penderitaan, kecelakaan atau bahaya (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktifitas fisik dari berbagai benda-benda di alam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) mencatat, selama tahun 2018, terjadi 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Data tersebut dirilis pada Kamis (25/10/2018). Menurut prediksi BNPB, jumlah itu masih akan terus meningkat hingga akhir tahun 2018. Dampak yang ditimbulkan bencana dilaporkan sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak. “Tren bencana juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Tingginya bahaya bencana, seperti gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, dan cuaca ekstrem, juga masih tingginya kerentanan dan masih rendahnya kapasitas menyebabkan tingginya risiko bencana,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Kamis (25/10/2018). Dari seluruh bencana yang terjadi tahun 2018, BNPB mencatat, bencana hidrometeorologi paling dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunung api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali. Oleh karenanya tidak mengherankan jika data statistik yang menunjukkan terjadinya bencana di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimana agama islam memandang bencana itu sendiri? Dan seperti apa kedudukan bencana menurut perspektif islam? Mungkin beberapa poin penting inilah yang menjadi daya tarik Ustadz Muhammad Rezki Hr, S.T., M.Eng., Ph.D. untuk hadir dan menjadi narasumber pada acara Kajian Kepemimpinan Pemuda Muslim #3 yang dilaksanakan pada hari Selasa, 11 Desember 2018 (Ba’da maghrib – isya’) di Pondok Pesantren Mahasiswa Demuttaqin, Yogyakarta membahas sebuah tema “Islam dan Dimensi Bencana”.

Ustadz Muhammad Rezki Hr, S.T., M.Eng., Ph.D. adalah putra kelahiran Provinsi Riau, Tembilahan. Beliau menempuh pendidikan S1 dan S2 Perencanaan Wilayah dan Kota di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta , kemudian melanjutkan pendidikan S3 nya di Newcastle University, Inggris. Beliau juga merupakan alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Peningkatan Frekuensi Bencana akhir akhir ini, khususnya bencana gempa merupakan tanda bahwa kita sudah berada di akhir zaman, sehingga benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

الزَّلاَزِلُ تَكْثُرَ حَتَّى السَّاعَةُ تَقُومُ لاَ

Tidak akan tegak hari kiamat sampai banyak terjadi gempa” (Hadits Riwayat Bukhari)


Dijelaskan bahwa gempa adalah pemantik berbagai bencana lainnya, seperti : longsor, likuefaksi, dan tsunami, karenanya diperlukan adanya manajemen resiko bencana, walaupun sangat kompleks namun setidaknya manajemen resiko ini bisa menjadi ikhtiar kita dalam mempersiapkan dan menyikapi kemungkinan terjadinya bencana pada masa yang akan datang.

Disamping itu, adanya bencana juga membawa hikmah tersendiri bagi perkembangan dakwah kepada masyarakat, bahkan peluang berdakwah ketika terjadinya bencana bisa menjadi peluang yang besar masyarakat mudah menerimanya. Namun disisi lain, para penganut paham liberalisme dan para ahli bida’ justru juga ikut memanfaatkan momen ini untuk menjaring para pengikutnya, bahkan disebutkan bahwa sejak tahun 1836, para misionaris sudah mempunyai panduan dalam menyebarkan ajarannya ketika terjadi bencana. Oleh karenanya hal ini juga menjadi harapan besar bagi kita agar bisa segera membuat panduan dakwah ketika terjadinya bencana.

Selain itu, pembekalan aqidah yang benar, sikap tawakkal, sikap sabar dan ikhtiyar dalam menjaga dan menyelamatkan jiwa dan harta ketika terjadi bencana serta pemahaman terhadap takdir yang benar menjadi poin-poin penting dalam upaya untuk menyikapi / menghadapi bencana yang sedang terjadi.