Rincian Hukum Perkataan “Andaikan”

Jika seseorang terkena musibah lalu mengatakan, “Andaikan saya tidak melakukan ini dan itu tentu saya tidak akan terkena musibah…”. Ucapan “andaikan” seperti ini dilarang dalam agama, karena merupan bentuk kejengkelan terhadap takdir Allah.

Namun perlu diketahui, hukum perkataan “andaikan” secara umum ada tiga bentuk. Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang kami ringkas sebagai berikut.

Pertama: sebagai kabar (informasi)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

أن يكون المراد بها مجرد الخبر فهذه لا بأس بها، مثل أن يقول الإنسان لشخص: “لو زرتني لأكرمتك”، أو “لو علمت بك لجئت إليك”.

“Kata “andaikan” dimaksudkan sekedar untuk memberi informasi, maka ini tidaklah mengapa. Semisal ketika seseorang berkata pada orang lain, “Andaikan kamu datang ke rumahku, pasti akan aku jamu dengan baik”, atau “kalau saya tahu engkau ada, saya akan datang kepadamu” (Majmu’ Al Fatawa War Rasa-il, 3/127).

Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

هو في ضَحْضَاحٍ مِن نَارٍ، لَوْلَا أنَا لَكانَ في الدَّرَكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia (Abu Thalib) berada di neraka yang paling dangkal. Andaikan bukan karena (syafa’at)ku, sungguh ia sudah berada di kerak neraka yang paling dalam” (HR. Bukhari no.6208, Muslim no. 209).

Kedua: tamanni (angan-angan)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

أن يقصد بها التمني، فهذه على حسب ما تمناه إن تمنى بها خيراً فهو مأجور بنيته، وإن تمنى بها سوى ذلك فهو بحسبه

“Kata “andaikan” dimaksudkan untuk mengungkapkan angan-angan. Maka hukumnya tergantung apa yang diangankan. Jika mengangankan kebaikan maka baik dan berpahala karena niatnya. Jika mengangankan keburukan, maka buruk”. (Majmu’ Al Fatawa War Rasa-il, 3/127-128).

Dua jenis pengandaikan ini disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

إنما الدنيا لأربعةِ نفرٍ ؛ عبدٌ رزقَه اللهُ مالًا و علمًا فهو يتَّقي فيه ربَّه ، و يصِلُ فيه رَحِمَه ، و يعلمُ للهِ فيه حقًّا ، فهذا بأفضلِ المنازلِ ، و عبدٌ رزقَه اللهُ علمًا ، و لم يرزقْه مالًا ، فهو صادقُ النَّيَّةِ ، يقولُ : لو أنَّ لي مالًا لعملتُ بعملِ فلانٍ ، فهو بنِيَّتِه ، فأجرُهما سواءٌ و عبدٌ رزقَه اللهُ مالًا ، و لم يرزقْه عِلمًا يخبِطُ في مالِه بغيرِ علمٍ ، و لا يتَّقي فيه ربَّه ، و لا يصِلُ فيه رَحِمَه ، و لا يعلمُ للهِ فيه حقًّا ، فهذا بأخبثِ المنازلِ ، و عبدٌ لم يرزقْه اللهُ مالًا و لا علمًا فهو يقولُ : لو أنَّ لي مالًا لعملتُ فيه بعملِ فلانٍ ، فهو بنيَّتِه ، فوزرُهما سواءٌ

“Dunia itu untuk 4 orang:

1. Hamba yang diberi rizki oleh Allah berupa harta dan ilmu (agama), ia bertaqwa kepada kepada Allah dengan ilmu dan hartanya, ia gunakan untuk menyambung silaturahim, ia mengetahui di dalamnya terdapat hak Allah, inilah kedudukan yang paling utama

2. Hamba yang diberi rizki oleh Allah berupa ilmu (agama), namun tidak diberi harta. Namun niatnya tulus. Ia berkata: Andai aku memiliki harta aku akan beramal seperti Fulan (nomor 1), dan ia sungguh-sungguh dengan niatnya tersebut. Maka antara mereka berdua (nomor 1 dan 2) pahalanya sama

3. Hamba yang diberi rizki oleh Allah berupa harta, namun tidak diberi ilmu (agama). Ia membelanjakan hartanya tanpa ilmu, ia juga tidak bertaqwa dalam menggunakan hartanya, dan tidak menyambung silaturahmi dengannya, ia juga tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Ini adalah seburuk-buruk kedudukan.

4. Hamba yang tidak diberi rizki dan juga tidak diberi ilmu (agama). Ia pun berkata: Andai saya memiliki harta maka saya akan beramal seperti si Fulan (yang ke-3), dan ia sungguh-sungguh dengan niatnya itu, maka mereka berdua (nomor 3 dan 4) dosanya sama”

(HR. At Tirmidzi no. 2325, ia berkata: “hasan shahih”)

Ketiga: ungkapan marah kepada takdir

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

أن يراد بها التحسر على ما مضى فهذه منهي عنها، لأنها لا تفيد شيئاً وإنما تفتح الأحزان والندم

“Kata “andaikan” dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa kecewa atas apa yang sudah terjadi. Maka ini terlarang karena tidak memberi manfaat apa-apa dan membuka pintu kesedihan dan penyesalan” (Majmu’ Al Fatawa War Rasa-il, 3/128).

Inilah yang dilarang dalam hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah. Namun setiap Mukmin itu baik. Semangatlah pada perkara yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam perkara tersebut), dan jangan malas. Jika engkau tertimpa musibah, maka jangan ucapkan: “Andaikan saya melakukan ini dan itu”. Namun ucapkanlah: “qadarullah wa maa-syaa-a fa’ala (ini takdir Allah, apa yang Allah inginkan itu pasti terjadi)”. Karena ucapan “andaikan…” itu akan membuka pintu setan” (HR. Muslim no. 2664).

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.