Pakaian Antimikroba, “Why Not?”

Dunia saat ini sedang dihadapkan pada kasus infeksi oleh salah satu virus corona bernama SARS-CoV-2, yang menyebabkan wabah pandemi COVID-19. Ratusan ribu orang telah terinfeksi dan puluhan ribu telah meninggal dalam wabah ini. Saat artikel ini ditulis, tidak kurang 308 ribu kasus Covid-19 dan korban jiwa mencapai lebih dari 13 ribu di seluruh dunia, yang bertambah terus setiap harinya [1].

Untuk mengatasi wabah, kebijakan lockdown (karantina wilayah) telah diterapkan di berbagai kota dan bahkan negara. Dampaknya pun terasa hampir di seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari pendidikan hingga masalah terkait dengan agama. Orang-orang tidak lagi bebas keluar rumah. Sekiranya keluar rumah, mereka harus menggunakan alat proteksi diri (APD) seperti masker dan sarung tangan untuk meminimalkan risiko terinfeksi virus corona, baik melalui udara maupun sentuhan.

Salah satu yang berada pada garda terdepan dalam memerangi virus corona ini adalah para petugas kesehatan. Mereka harus berhadapan langsung dengan para pasien COVID-19. Risiko terinfeksi sangat tinggi sehingga dilaporkan beberapa petugas medis dari kalangan dokter maupun perawat bahkan sudah terinfeksi dan menjadi korban keganasan virus ini [2]. Sebagai ilmuwan, kami merasa perlu juga memberi sumbangsih pemikiran bagaimana memerangi virus ini maupun penyakit-penyakit menular yang disebabkan karena infeksi dari mikroorganisme.

Salah satu metode untuk meminimalkan penularan adalah dengan membunuh mikroorganisme itu sendiri. APD yang ada saat ini seperti yang dianjurkan untuk dipakai oleh masyarakat adalah masker bedah atau masker N95. Masker ini hanya bersifat memfilter masuknya mikroorganisme bersama udara yang dihirup [3]. Pemfilteran masih memungkinkan mikroorganisme tetap hidup dan masih menempel pada bagian luar masker.

Jika pembuangan masker tidak hati-hati dilakukan, masih ada kemungkinan masker menjadi media penularan terutama melalui sentuhan. Sebagai contoh, virus corona dapat bertahan hingga hitungan hari tergantung jenis materialnya [4]. Oleh karenanya, ada beberapa ilmuwan dan ahli teknik yang bekerja sama untuk membuat antimicrobial fabrics seperti antimicrobial mask atau antimicrobial cloth. Di antara yang telah diproduksi dan dipakai di pasaran adalah antimicrobial mask dari Crosstex yang merupakan bagian dari Cantel Medical Corporation.

Crosstex telah memproduksi masker antimikroba dengan merek biosafe® yang diklaim telah terbukti dapat membunuh H1N1 atau virus-virus influenza tipe A lainnya, termasuk juga beberapa mikroorganisme seperti MRSA, Staphylococcus aureus, VRE, Enterococcus faecalis, Pseudomonas aeruginosa, dan Salmonella enterica. Tipe masker biosafe® ini diklaim dapat membunuh 98.5–99.9% mikroorganisme yang terperangkap atau menempel pada masker dalam waktu 5 menit saja [5].

Penemuan masker antimikroba tentunya merupakan sebuah kemajuan besar karena akan sangat mengurangi risiko terkontaminasi oleh mikroorganisme yang disebabkan menyentuh masker itu sendiri. Jika masker antimikroba ini kemudian dikembangkan untuk pakaian (garmen), para petugas medis yang berada di garis terdepan berhadapan dengan penderita infeksi dari mikroorganisme dapat lebih terlindungi.  

Sayangnya, walaupun cukup efektif dalam membunuh mikroorganisme, harga masker antimokroba masih cukup mahal dibandingkan harga masker bedah biasa atau masker tipe N95. Oleh karena itu, penting kiranya untuk menemukan antimicrobial agent yang ampuh dan relatif murah serta metode yang efektif dan efisien untuk mengombinasikan bahan antimikroba tersebut ke dalam masker atau garmen/pakaian. Di antara hasil riset terbaru, misalnya yang dilakukan oleh Maryan dkk. pada 2015 [6], adalah sinstesis nanopartikel perak secara in-situ (langsung) di dalam sejenis garmen berbahan denim (kain katun kasar) tanpa menyebabkan hilangnya warna pakaian.

Gambar (b) yang diambil dari makalah Maryan dkk. menunjukkan bintik-bintik putih dari nanopartikel perak yang terdistribusi secara merata pada pakaian berbahan denim, dibandingkan dengan bahan pakaian mula-mula pada gambar (a). Hasil riset mereka menunjukkan hampir tidak ada penambahan aktivitas mikroorganisme bahkan setelah melakukan pencucian hingga 40 kali. Tidak hanya itu, tes terkait kelangsungan hidup sel mengindikasikan rendahnya aktivitas toksisitas dari garmen yang telah diberi perlakuan.

Apa yang kami sebutkan di atas satu contoh saja. Sebetulnya ada banyak antimicrobial agents yang telah diteliti dan mungkin untuk diaplikasikan pada garmen, baik yang berupa materi organik seperti senyawa Quarternary Ammonium, chitosan, polybiguanides, N-halamines, triclosan, bioactive plant-based products, maupun material nonorganik  seperti nanopartikel logam dan oksida logam.

Demikianlah, masih banyak pekerjaan rumah, khususnya bagi para ilmuwan yang fokus di bidang ini mencari material mana yang paling efektif dan efisien untuk digunakan pada garmen dan sejenisnya. Semua ini tentunya diarahkan dalam rangka memberikan kemaslahatan kepada manusia secara umum.


Referensi:

[1] Worldometers, “COVID-19 Coronavirus Pandemic,” URL: https://www.worldometers.info/coronavirus/
[2] CNN Indonesia, 20 Maret 2020, “Anies: 25 Petugas Medis di DKI Positif Corona, 1 Meninggal,” URL: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200320183414-20-485457/anies-25-petugas-medis-di-dki-positif-corona-1-meninggal 
[3] M. Nareza, “Inilah Pilihan Masker untuk Virus Corona,” URL: https://www.alodokter.com/inilah-pilihan-masker-untuk-virus-corona 
[4] C. Leiva, “How Long Coronavirus Lives On Clothes, And How To Wash Them,” URL: https://www.huffpost.com/entry/how-long-coronavirus-live-clothing-washing_l_5e724927c5b6eab779409e74  
[5] “Antimicrobial-treated medical face mask launched,” URL: https://www.dentistryiq.com/products/article/16370845/antimicrobialtreated-medical-face-mask-launched 
[6] A. S. Maryan, M. Montazer, T. Harifi, “Synthesis of nano silver on cellulosic denim fabric producing yellow colored garment with antibacterial properties,” Carbohydrate Polymers 115, 568-574 (2015).