Sebelum Datang Dajjal Besar, Akan Datang Dajjal-Dajjal Kecil

Ketahuilah pembaca yang dirahmati Allah, di antara tanda akhir zaman adalah munculnya dajjal-dajjal kecil, sebelum datangnya al masih ad dajjal. Dajjal-dajjal kecil itu adalah para pendusta yang banyak membuat kedustaan dalam agama. 

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا بِهِ أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ 

“Akan datang di akhir zaman, beberapa orang dari umatku yang bicara sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya (yang aneh-aneh) oleh kalian atau kakek moyang kalian. Maka berhati-hatilah kalian dan jauhilah mereka” (HR. Ahmad no. 8267, dihasankan oleh Syu’aib Al Arnauth). 

Dalam lafadz lain: 

سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يُحَدِّثُونَكُمْ بِبِدَعٍ مِنْ الْحَدِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لَا يَفْتِنُونَكُمْ 

“Akan datang di akhir zaman, dajjal-dajjal yang pendusta. Mereka menyampaikan kepada kalian berbagai bid’ah (keyakinan dan amalan yang baru), yang tidak pernah didengar oleh kalian sebelumnya atau oleh kakek moyang kalian. Maka berhati-hatilah terhadap mereka dan jangan sampai kalian terfitnah (baca: jangan sampai rusak agama kalian)” (HR. Ahmad no. 8596, dihasankan oleh Syu’aib Al Arnauth). 

Dalam riwayat Muslim: 

يكونُ في آخِرِ الزمانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ . يأتونَكم من الأحاديثِ بما لم تَسْمَعُوا أنتم ولا آباؤُكم . فإيَّاكم وإيَّاهم . لا يُضِلُّونَكم ولا يَفْتِنُونَكم 

“Akan datang di akhir zaman, dajjal-dajjal yang pendusta. Mereka menyampaikan kepada kalian berbagai perkataan yang tidak pernah didengar oleh kalian sebelumnya atau oleh kakek moyang kalian. Maka berhati-hatilah terhadap mereka dan jangan sampai kalian sesat dan jangan sampai kalian terfitnah” (HR. Muslim no. 7). 

Al Munawi berkata dalam Mirqatul Mafatih

يعني : سيكون جماعة يقولون للناس : نحن علماء ومشايخ ندعوكم إلى الدين وهم ( كذابون ) : في ذلك ( يأتونكم من الأحاديث بما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم ) ، أي : يتحدثون بالأحاديث الكاذبة ويبتدعون أحكاما باطلة واعتقادات فاسدة 

“Maksudnya akan ada beberapa orang yang berkata: kami ulama, kami masyaikh, kami mendakwahkan agama, namun mereka PENDUSTA. Di antara dusta mereka adalah mereka menyampaikan perkataan yang tidak pernah didengar oleh kalian atau oleh kakek moyang kalian. Yaitu, perkataan-perkataan dusta dan mereka membuat-buat hukum-hukum yang batil dan keyakinan-keyakinan yang rusak”. 

Maka dikabarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa di akhir zaman akan ada orang-orang yang bicara agama tanpa ilmu (tanpa dalil), bersandarkan pada hadits yang dusta (hadits palsu) dan isi perkataannya yang aneh-aneh, tidak pernah didengar oleh para salaf terdahulu. Padahal masalah agama seharusnya merujuk pada pemahaman salafus shalih terdahulu. Mereka itulah dajjal-dajjal kecil. 

Anehnya, dajjal-dajjal kecil ini terkadang juga sering bicara masalah dajjal! Allahul musta’an

Jangan terima kabar-kabar aneh, dalam masalah agama 

Allah Ta’ala berfirman: 

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا 

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)” (QS. An Nisa: 83). 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan: “Ini adalah bimbingan Allah kepada para hambanya agar tidak melakukan hal yang tidak layak. Yaitu bahwasanya jika datang suatu perkara yang terkait dengan suatu hal yang urgen dan merupakan urusan banyak orang, atau yang terkait dengan keamanan atau kebahagiaan kaum Mu’minin, atau bisa menimbulkan ketakutan karena di dalamnya terdapat musibah bagi kaum Mu’minin, hendaknya mereka timbang dengan matang terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan kabar tersebut. Bahkan yang benar adalah mengembalikannya kepada Rasulullah dan kepada ulil amri di antara mereka, yaitu para ulama. Yang mereka memahami duduk permasalahan dan memahami apa yang maslahah dan apa yang mafsadah. Jika mereka memandang bahwa menyebarkannya itu baik dan bisa memotivasi kaum Mu’minin dan membuat mereka bahagia, membuat mereka kuat menghadapi musuh, maka silakan dilakukan. Jika para ulama memandang bahwa perkara tersebut tidak ada maslahahnya atau ada maslahah namun lebih besar mudharatnya, maka jangan disebarkan” (Tafsir As Sa’di, 1/190). 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ 

“Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, jika dia menyampaikan semua yang ia dengar” (HR. Muslim no. 5). 

Maka wajib untuk cek dan ricek ketika mendengar kabar-kabar yang aneh-aneh. 

Semoga Allah memberi taufik.