Indahnya Agama Islam (Bagian 1)

Islam adalah agama yang indah. Satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.(QS. Ali Imran [3]:19)

Meskipun saat ini berbagai tuduhan diarahkan kepada agama ini sebagai agama yang membawa kerusakan, agama teroris dan tuduhan lainnya, namun Islam tetap berdiri kokoh karena rahmat dan karunia Allah Ta’ala. Oleh karena itu, merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk mengetahui keindahan agama Islam agar semakin paham dengan agama yang dianutnya.

Islam adalah Agama yang Sempurna

Islam adalah agama yang sempurna dari semua sisi. Kesempurnaan ajaran agama Islam berarti bahwa Islam tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan, karena hal itu akan merusak kesempurnaannya. Tidak ada cacat, aib, kekurangan ataupun kesalahan dalam agama ini sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Ayat ini menunjukkan besarnya nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat ini, yaitu nikmat agama yang sempurna. Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,

“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah Ta’ala kepada umat ini ketika Allah Ta’ala menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lainnya dan tidak pula membutuhkan Nabi yang lain selain Nabi mereka (yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Oleh karena itu, Allah Ta’ala menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutus beliau kepada jin dan manusia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/26)

Islam adalah Agama yang Mudah

Di antara yang menunjukkan keindahan agama Islam adalah kemudahan dalam melaksanakan ajaran Islam. Aturan dalam Islam bertujuan untuk memberikan kemudahan dan mewujudkan kemaslahatan (kebaikan), bukan untuk mempersulit kehidupan (urusan) seorang manusia. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

 “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Oleh karena itu, Islam melarang seseorang untuk berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Karena ghuluw dalam agama identik dengan sikap menyusahkan dan mempersulit diri sendiri tanpa ada tuntunan dari syariat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia, jauhilah sikap ghuluw (sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam beragama.” (HR. Ibnu Majah no. 3029, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)

Islam adalah Agama Tauhid, yaitu Bagaimana Seseorang “Berakhlak” kepada Allah Ta’ala

Islam mengajarkan dan memerintahkan pertama kali kepada umatnya untuk berakhlak kepada Allah Ta’ala, sebelum berakhlak kepada selain-Nya. Hal ini diwujudkan dengan menyembah Allah Ta’ala semata dan mengingkari segala sesembahan kepada selain Allah Ta’ala. Ini merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar kepada para hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa [4]: 36)

Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan sepuluh hak yang wajib kita tunaikan. Yaitu hak Allah Ta’ala, hak kedua orang tua, dan seterusnya sampai dengan hak hamba sahaya (budak). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan hak-Nya, ”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Ini adalah bukti bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diserukan kepada seseorang dan merupakan kewajiban terbesar seorang hamba dalam sepanjang hidupnya, sebelum menunaikan kewajiban yang lainnya. Dalam ayat ini pula, Allah Ta’ala memerintahkan untuk memenuhi hak-Nya terlebih dahulu, sebelum berbuat baik kepada orang tua.

Oleh karena itu, jika kita hanya memperhatikan akhlak kepada sesama manusia, namun melupakan mentauhidkan Allah Ta’ala, maka sungguh kita telah merusak keindahan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini karena menujukan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan akal sehat dan fitrah manusia. [Bersambung]

***


Selesai ditulis di waktu isya’,

Rotterdam (Belanda), 11 Jumada Awwal 1438

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim