Mengenal “Medical Quackery”

Seringkali kita mendapatkan promosi metode pengobatan dengan teknik atau bahan tertentu di jalan-jalan atau melalui iklan di surat kabar dan radio. Promosi tersebut biasanya dibumbui dengan klaim “pasti sembuh”, “100% aman”, atau “tanpa efek samping” dan sebagainya. Untuk meyakinkan calon konsumen, ditambahkan pula kesaksian orang-orang yang “sudah sembuh” melalui metode pengobatan tersebut.

Mengenal Praktek “Medical Quackery”

Dalam dunia medis, fenomena tersebut dikenal atau disebut dengan istilah medical quackery”. Medical quackery adalah setiap metode atau intervensi, baik yang menggunakan bahan, alat, atau metode tertentu, yang tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah (scientific evidence) yang memadai (unproved). Atau sebaliknya, bukti ilmiah justru menunjukkan sebaliknya (disproved), yaitu bahwa metode tersebut sebetulnya tidak bermanfaat atau justru berbahaya bagi kesehatan manusia. Masyarakat awam biasanya menyebut hal semacam ini dengan istilah “hoax medis”.

Orang yang mempromosikan atau praktisi medical quackery disebut dengan quack. Nama lain quack adalah charlatan. Pada zaman dahulu, charlatan adalah semacam tukang obat yang berjualan di jalan-jalan umum atau di pasar-pasar tradisional, dengan membawa pengeras suara, dan meneriakkan klaim bahwa obat yang dia jual bisa mengobati banyak (atau bahkan semua) penyakit untuk menarik banyak pembeli. Praktik charlatan masih bisa kita temui sampai saat ini.

Iklan atau promosi quackery biasanya disertai dengan pernyataan bernada sinis (negatif) atau menjelek-jelekkan pengobatan medis. Misalnya, dengan menyebut bahwa dokter tidak lebih dari sekedar pebisnis yang lebih mementingkan keuntungan finansial, bukan memperhatikan kesembuhan dan kesehatan pasiennya. Atau dengan menyebut obat-obatan medis sebagai “obat-obat kimia” atau “racun berbahaya”, “tidak alami”, “memiliki banyak efek samping yang merusak organ tubuh manusia” dan sebagainya. Sebaliknya, mereka mengklaim dan mempromosikan produk-produk mereka sebagai produk berkhasiat yang mampu mengobati penyakit apa saja, mulai dari yang paling “sederhana” semacam batuk pilek, sampai penyakit berat atau komplikasi, seperti kanker ganas. Dewasa ini, sebagian praktisi quackery berlindung di balik nama “yang tampak indah” seperti “complementary and alternative medicine” (CAM); “holistic medicine”; atau integrative medicine” (“integrative approach”). Meskipun berlindung di balik nama yang “tampak ilmiah” dan “tampak meyakinkan”, tetap saja tidak mengubah hakikatnya.

Ciri Khas Medical Quackery

Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dewasa ini, quackery menjadi semakin mudah diakses dan menjadi populer di masyarakat. Khususnya mereka yang menderita penyakit menahun (kronis), misalnya orang-orang yang menderita penyakit ginjal, diabetes, kanker dan HIV/AIDS. Pasien-pasien ini sangat rentan tertipu dengan promosi quack karena kondisi mereka yang sakit berkepanjangan, menahan rasa sakit (nyeri), dan sebagian mengalami putus asa dan terjatuh ke dalam depresi. Korban lain adalah orang-orang yang sangat peduli dengan penampilan fisik, sehingga mudah tertipu dengan produk kecantikan, anti-penuaan (anti-aging), atau produk penurun berat badan. Tidak mengherankan jika quackery menjadi bisnis besar dewasa ini.

Produk-produk yang ditawarkan oleh quackery ini sangat beragam. Mulai dari berbagai macam produk “herbal”; reflexology (pijat refleksi, semacam “peta” yang menghubung-hubungkan area-area tertentu, misalnya telapak tangan dan kaki, dengan organ tubuh tertentu), sampai pengobatan “magis” semacam “energy medicine” (dengan transfer energi positif jarak jauh), reiki, homeopati, dan lain-lain. Masyarakat harus waspada, lebih-lebih bagi seorang muslim yang harus berhati-hati jika tidak ingin terjatuh ke dalam praktek kemusyrikan.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat secara umum untuk mengetahui ciri-ciri quackery agar tidak tertipu dengan mereka. Secara umum, berikut ini adalah ciri-ciri promosi quackery.

  1. Menjanjikan hasil pengobatan yang cepat, pasti sembuh, tidak menimbulkan rasa sakit, dan tanpa efek samping apa pun.
  2. Mengklaim produknya mampu mengobati berbagai macam jenis penyakit. Bahkan, satu jenis obat atau bahan bisa diklaim mengobati penyakit apa saja, mulai dari penyakit karena infeksi (hepatitis, influenza), penyakit kanker, penyakit gangguan metabolisme (diabetes), penyakit gangguan imunitas atau radang (inflamasi) seperti penyakit autoimun, penyakit jantung, ginjal, stroke, dan lain sebagainya.
  3. Menyebut produknya dibuat dari “bahan-bahan spesial” atau “ramuan rahasia”. Atau dengan kata-kata yang “wah” dan “bombastis” seperti “produk berkhasiat dan berkualitas tinggi”; “produk asli daerah tertentu”; “ramuan warisan leluhur”; “penyembuhan ajaib”; “transfer energi”; dan sebagainya.
  4. Menggunakan testimoni dari pasien-pasien yang puas dengan produk mereka untuk menarik calon konsumen. Sedangkan testimoni pasien-pasien yang tidak puas atau tidak sembuh, tentu saja tidak akan pernah ditampilkan.
  5. Agar tampak ilmiah, bisa saja para quack mengutip jurnal-jurnal ilmiah lalu dihubung-hubungkan seenaknya sendiri dengan produk mereka.

Bahaya dari quackery ini tampak nyata karena biasanya mereka menganjurkan untuk menjauhi pengobatan medis, yang terbukti secara ilmiah bermanfaat. Misalnya, pasien-pasien kanker stadium awal yang termakan iklan quackery bisa saja lebih memilih ramuan-ramuan tertentu sehingga tidak bersedia menjalani pembedahan atau kemoterapi. Padahal, jika pembedahan atau kemoterapi dilakukan pada stadium awal, peluang untuk sembuh masih besar. Lalu, setelah sekian bulan atau tahun mereka mengkonsumsi ramuan-ramuan tersebut, mereka kembali lagi ke dokter ketika stadium kanker sudah stadium lanjut dan lebih sulit untuk disembuhkan. Fakta semacam ini biasa kita temui di praktek dokter dan rumah sakit.

Semoga dengan penjelasan ini, masyarakat lebih mengenal dan mewaspadai praktek-praktek atau iklan “medical quackery”.

***

Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam 19 Syawal 1437/24 Juli 2016

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim