Pendidikan Karakter

Sudah lama saya tertarik dengan istilah “pendidikan karakter”, tetapi memang perlu disepakati dulu karakter apa yang akan dibentuk. Saya tidak pernah dibuat pusing dengan prestasi anak di sekolah. Yang penting bagi saya, anak mau melakukan prosesnya. Seingat saya, saya tidak pernah marah atau menunjukkan rasa ketidaksukaan saat prestasi anak saya kurang. Bahkan, seandainya anak saya tinggal kelas pun, saya berjanji tidak akan marah atau menunjukkan ketidaksukaan. Namun, saya sering unjuk mimik ketidaksukaan jika anak saya meninggalkan proses belajar.

Saya ingin anak saya berani dan bertanggung jawab, bukan sekedar berani berduel dengan temannya. Untuk hal ini, anak saya dulu sering melakukan kontak fisik dengan temannya karena ia punya bakat turunan emosional dari ayahnya, tetapi juga berani bertanggung jawab. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf apabila berbuat salah.

Pernah suatu saat, ia berkelahi dengan temannya. Setelah ditegur oleh gurunya, ia saya skors tidak masuk sekolah sehari. Saya katakan padanya, kalau masih ingin sekolah, ia harus menghadap kepada kepala sekolah dan meminta maaf kepadanya serta berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga menghadap kepada guru kelasnya dan temannya untuk melakukan hal serupa. Alhamdulillah, dia berani. That’s my son!

Saya (berusaha) tidak marah dengan perbuatannya yang disengaja apabila ia yakin betul apa yang diperbuatnya benar. Alasannya, kalau ia yakin benar sedangkan kita tahu itu salah, berarti ada informasi yang tak benar masuk ke otaknya atau ia salah mengolah kebenaran yang masuk ke otaknya.

Hal yang sering saya ulang kepada anak saya adalah pengawasan Allah dan balasan di akhirat kelak atas apa yang diperbuat di dunia. Saya ingin anak saya bukan menjadi pekerja rodi dan saya menjadi mandor ala tentara Heiho Jepang di hadapannya. Saya ingin anak saya mau melakukan sesuatu di saat saya tidak ada sama seperti ia melakukannya di hadapan saya karena saya sadar bahwa mata dan tangan saya terbatas untuk selalu menjaga aktivitasnya.

Saya sering ulangi dan tanamkan, kebaikan apapun akan dicatat sebagai kebaikan dan akan dibalas di akhirat. Begitu juga sebaliknya dengan perbuatan kejelekan, Allah pasti tahu apa yang kita sembunyikan. Kebohongan kita tidak tersembunyi bagi Allah. Obrolan seperti ini menjadi hal yang biasa seperti saat saya membahas mainan Lego kesukaannya atau kucing yang jadi kegemaran anak bungsu saya. (Catatan: Saya tidak memelihara kucing di rumah karena saya larang, tapi anak saya sering bermain-main dengan kucing tetangga dan kucing mana saja yang ia temui.)

Pernah suatu ketika saya marah dengan suatu sebab, saya bertanya siapa yang telah berbuat begini dan begitu, saya kira anak-anak tidak akan berani merespon karena melihat saya marah. Namun, tak saya sangka, tetap ada yang tunjuk jari ke atas seperti ketika ditanya siapa yang mau dikasih uang.

Saya ajari anak saya untuk punya harga diri. Jangan sampai mereka minta-minta sesuatu pada orang karena itu memalukan, selain juga merupakan perbuatan dosa. Namun, jika mereka diberi sesuatu, wajib diterima sambil mengucapkan terima kasih. Pengemis dan pengamen adalah pekerjaan yang hina. Sebaliknya, pemulung adalah pekerjaan mulia. Belajar menghargai dari apa yang dilakukan orang lain, bukan dari apa yang tampak.

Kotor belum tentu hina, sedangkan bersih dan necis belum tentu terhormat. Jangan pernah malu dengan kekurangan di dunia. Jangan pernah malu punya orang tua apapun keadaannya. Yang mesti malu itu adalah jika berbuat dosa.

Saya ajari anak saya bangga terhadap Islam dan kaum muslimin. Kafir dan orang kafir itu pasti jelek. Meski mereka “baik”, tetapi kelak mereka akan masuk neraka karena menyembah berhala.

Saya ajari anak saya berani amar ma’ruf nahi munkar. Jangan malu. Anak kita mesti kita ajak untuk menyaksikan diri kita melakukan apa yang kita omongkan. Alhamdulillah, sering saya dengar anak saya menasihati temannya bahwa itu dosa, tidak sopan, jika temannya berkata-kata kotor ataupun berkata bohong.

Mengenai perkataan bohong, jangan sampai sekalipun ada persepsi dalam pikiran anak kita bahwa kita telah berbohong. Sekali saja mereka menangkap kita telah berbohong, meski bercanda, maka kita telah menurunkan rasa percaya terhadap apapun yang kita bicarakan.

Ah, kok jadi panjang begini, ya. Mohon maaf, pembicaraannya terfokus pada“saya” dan bukan “kita”. Namun, ketika saya bercerita di atas, bukan berarti anak-anak saya adalah super seperti anak ustadz dan ulama. Anak-anak saya masih seperti anak yang lainnya, ngambek, menangis, ataupun ribut dengan saudaranya. Begitu juga dengan “saya” yang sedang berperan sebagai penceramah. Masih banyak kekurangannya, seperti marah, lupa, ataupun diserang rasa malas. Selain itu, bukan berarti saya sudah persis seperti yang saya omongkan. Setidaknya itulah keinginan saya dan yang pernah saya lakukan. Tinggal dijaga konsistensinya.

Gambaran mengenai pendidikan karakter mungkin akan sangat variatif deskripsinya dari orang-orang yang berbeda. Poin pentingnya di sini adalah bahwa pendidikan karakter dibentuk terutama di rumah, bukan di sekolah. Kita membuat karakter sesuai karakter rumahan. Alami, bukan yang instan dan bukan yang dibuat-buat.

***

Penulis: Dony Arif Wibowo (Pendiri dan anggota Dewan Pembina KIPMI)